Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

SKK Migas: Industri Ambil Gas Terbanyak

Dani Jumadil Akhir , Jurnalis-Minggu, 07 Juli 2013 |18:42 WIB
 SKK Migas: Industri Ambil Gas Terbanyak
Ilustrasi. (Foto: Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha (SKK Migas) menyatakan alokasi gas untuk kebutuhan domestik meningkat tiap tahunnya. Hal ini lantaran Pemerintah dianggap tidak pro domestik.

"Jika dianggap tidak berpihak kepada domestik, kenapa alokasi gas ke dalam negeri naik terus setiap tahun," ungkap Kepala SKK Migas Rudi Rubiandini dalam data SKK Migas yang dikutip Okezone, Jakarta, Minggu (7/7/2013).
 
Rudi menjelaskan, saat ini, jatah gas untuk domestik mendekati 49 persen dari total produksi. Jumlah ini naik signifikan ketimbang 10 tahun lalu di mana pasokan ke domestik tidak lebih dari 10 persen.

"Alokasi untuk domestik ini buat siapa? Jika dirunut berdasarkan besaran, alokasi terbanyak untuk industri, kemudian kelistrikan, pupuk, terakhir baru untuk peningkatan lifting," jelas Rudi.

Rudi mengungkapkan, khusus untuk pupuk, alokasi yang ada saat ini untuk memenuhi total 12 kontrak yang sudah berjalan dengan volume kontrak sebesar 743 billion british thermal unit per hari (bbtud).

Dan ke depannya menurut Rudi, telah direncanakan tambahan kontrak untuk lima pabrik pupuk yang akan dikembangkan, yaitu Pupuk Kaltim-5, PKG-2, Pupuk Sriwijaya-IIB dan IIIB, serta Pupuk Kujang-IC.

Saat ini, telah ditandatangani satu kontrak PJBG (perjanjian jual beli gas bumi) untuk revitalisasi pabrik Kaltim-5. Empat lainnya masih proses pembahasan kontrak. Tiga diantaranya sudah ditetapkan alokasi gasnya, satu pabrik masih dalam evaluasi.

"Jadi, concern kami untuk perkembangan pabrik pupuk sangat serius. Tidak hanya pupuk, sektor hulu migas ini harus memenuhi kebutuhan listrik dan industri yang terus meningkat," tegas Rudi.

Rudi menuturkan, jadi betapa tidak bersyukurnya bila masih terus menghujat bahwa industri hulu migas tidak berpihak pada industri domestik, khususnya pabrik Pupuk. "Malah pernyataan yang berkembang lebih ke arah fitnah dan menebar kebohongan publik," tukas dia.

(Martin Bagya Kertiyasa)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement