Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Standar Makanan Indonesia Tertinggal dengan Amerika

Dani Jumadil Akhir , Jurnalis-Rabu, 09 Juli 2014 |11:12 WIB
Standar Makanan Indonesia Tertinggal dengan Amerika
Standar Makanan Indonesia Tertinggal dengan Amerika (Ilustrasi: Reuters)
A
A
A

JAKARTA - Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) meminta kepada presiden terpilih nanti memperbaiki infrastruktur logistik. Hal ini tidak terlepas karena peta persaingan saat ini sudah global.

"Persaingan di dunia, saya baru keliling dengan BPOM ke Amerika Serikat (AS), ke Korea. Itu persaingan bukan cuma tarif, tapi supermarket-supermarket di AS, di Eropa sudah minta standar makanan BRC (British Retail Consorsium)," ucap Ketua Umum GAPMMI Adhi Lukman di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta.

Menurut Adhi, standar tersebut levelnya jauh lebih tinggi daripada HACCP yang sudah diterapkan di Indonesia. "Kita bilang Indonesia rata-rata sudah punya standar HACCP, tapi ternyata sudah enggak berlaku lagi di sana. mereka minta lebih tinggi lagi," kata dia.

Adhi menjelaskan, dengan adanya peraturan tersebut membuat produk dari Indonesia untuk bersaing di dunia jauh lebih berat.

"Jauh lebih berat, karena mereka meningkatkan standar terus alasannya klasik untuk keamanan pangan, melindungi konsumennya. tapi saya rasa juga untuk menghambat produk masuk," cetusnya.

Selain itu, penerapan non tarif barier menjadi tantangan makanan/minuman untuk ke depan. Apalagi lanjut dia mengungkapkan, di AS sudah menerapkan FSMA Food Safety Modernization Act, di Eropa pun sudah BRC.

"Makin lama negara maju makin meningkatkan standarnya. Kalau enggak ikutin kita otomatis akan kalah. Meskipun kita bisa produksi, makanya perlu pikirkan hal ini. Terus terang standar kita lebih rendah dari negara-negara itu," tegasnya.

"Yang sudah menerapkan itu Korea, Eropa, AS itu FSMA harus diaudit oleh pemerintah AS misalnya fasilitas pabrik, keluar masuk satpam tamu harus dilaporkan terrecord dengan baik.  Malaysia HACCPnya di Asean yang tertinggi levelnya, Malaysia, Singapura, lalu Indonesia, Thailand, filipina, Brunei satu level serta Laos, Myanmar, Kamboja," sambungnya.

Untuk itu, dirinya meminta dalam waktu dekat presiden terpilih harus memikirkan ke arah sana. Ini pun didukung dari pihak Kementerian Perindustrian yang menyatakan makanan dan minuman jadi industri strategis.

"Tapi juga pikirkan meningkatkan standar, mutu, harga dan daya saing," ucapnya.

(Rizkie Fauzian)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement