JAKARTA - Harga penawaran PT Pertamina (Persero) pada divestasi 37,15 persen saham PT Elnusa Tbk (ELSA) milik PT Tridaya Esta di kisaran Rp200-Rp300 dari sebelumnya Rp451 per saham dinilai merugikan investor. Hingga kini preferred bidder masih dipegang konsorsium Northstar-Saratoga.
"Ini sama saja mempermainkan investor publik," kata Ketua Masyarakat Investor Seluruh Indonesia (MISI) ND Murdhani, saat dihubungi di Jakarta, Selasa (14/7/2009).
Dia mengatakan, sebaiknya Pertamina sebagai  induk usaha Elnusa tidak memberikan valuasi harga serendah itu. Pasalnya, hal ini membingungkan investor sehingga memberikan sentimen negatif pada saham ELSA sejak satu bulan terakhir. Untuk memberikan penilaian yang wajar, lanjut dia, sebaiknya Pertamina menyerahkan kepada lembaga independen yang kredibel.
"Sebaiknya Pertamina memang tidak usah memberi valuasi harga serendah itu atau tidak mengajukan penawaran sama sekali," kata Murdhani.
Pertamina menunjuk PT Danareksa Securites sebagai penasehat keuangan dalam proses divestasi saham ELSA. Berdasarkan sumber, Pertamina mengajukan penawaran terakhir sebesar Rp300 per saham, bahkan jajaran komisaris hanya berani menawar Rp200 per saham jauh dari harga penawaran terakhir yang sempat di level Rp451 per saham.
Harga penawaran terakhir ini jauh di bawah harga penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) saham ELSA di level Rp410 per saham. Berdasarkan sumber tersebut, Pertamina sengaja mengubah harga penawaran dengan maksud menurunkan harga ELSA sekaligus mengacaukan transaksi. Namun Direktur Keuangan Pertamina Frederick Siahaan membantah hal tersebut. "Dari awal hingga akhir, Pertamina selalu mematok harga di bawah Rp300," katanya belum lama ini.
Meski demikian Murdhani meyakini, valuasi harga penawaran Pertamina bisa berubah di atas harga IPO. "Kalau tidak ingin beli, ya jangan kacaukan harga dong. Apalagi oleh pihak pengendali, bisa-bisa dianggap melanggar UU Pasar Modal," kata Murdhani.
Sementara Fund Manager Reliance Asset Management Deni Hamzah  mengatakan, Pertamina dinilai tidak serius membeli saham Tridaya Esta di ELSA. Hal ini terlihat dari rendahnya valuasi harga penawaran yang disodorkan Pertamina. "Saya lihat valuasi yang dibuat sudah tidak masuk akal, apalagi Pertamina kan mayoritas, masa anak perusahan sendiri dijelek-jelekan, saya setuju kalau Pertamina tidak serius beli," katanya.
Denny juga mempertanyakan valuasi saham ELSA oleh Pertamina yang menilai harga saham anak usahanya tersebut di sekira Rp200 per saham. "Ini aneh, bagaimana mungkin Pertamina menawar harga saham anak usahanya sendiri juah di bawah harga perdana," turur Deni.
Komisaris Pertamina hanya memberi wewenang kepada direksi untuk membeli ELSA sebesar Rp200 saja. Dengan fakta ini terkesan ada pihak-pihak tertentu yang berusaha untuk menggagalkan transaksi ini.
Lebih jauh, Deni mempertanyakan logika manajemen Pertamina dengan harga valuasi yang justru merugikan Pertamina sendiri. "Sepertinya komisaris dan direksi Pertamina lupa bahwa Pertamina itu pemegang saham mayoritas di ELSA. Kalau mereka bid murah, maka harga tertekan. Pada akhirnya yang rugi negara juga karena nilai asetnya berkurang di ELSA," ungkap Deni.
Dia juga mengkritisi harga valuasi Pertamina terhadap saham ELSA yang di bawah harga likuidasi sekira Rp200 sulit diterima akal sehat. "Sebab itu seolah-olah Pertamina tidak membutuhkan ELSA dan menganggapnya sebagai perusahaan yang tidak bagus. Masak sih, anak perusahaan sendiri dijelek-jelekkan?" kritik Deni setengah bertanya.
Deni menyarankan, andai kata Pertamina memang enggan membeli Elnusa, sebaiknya BUMN migas ini berdiam diri. Dengan demikian, semua pihak akan diuntungkan. "Apalagi sebetulnya Elnusa perusahaan yang sangat prospektif dan sejalan dengan bisnis inti Pertamina," jelas Deni.
ELSA merupakan satu-satunya perusahaan nasional yang memberikan jasa integrated oil and gas services secara lengkap, dari hulu hingga ke hilir. Tidak ada satu pun perusahaan domestik maupun asing di Indonesia yang memiliki kompetensi dan skalabilitas di bidang ini selain Elnusa. Selain itu, ELSA juga dikenal dengan keahliannya di bidang geo-science, yaitu jasa yang mengidentifikasi potensi minyak dan gas bumi.