JAKARTA - Buntut dari naiknya tarif daya listrik (TDL), kalangan pengusaha mempertanyakan kebijakan energi primer yang diterapkan pemerintah. Ujung-ujungnya, pengusaha ini berencana melakukan class action atas kebijakan energi primer tersebut.
Demikian diungkapkan oleh Ketua Forum Komunikasi Asosiasi Nasional yang juga Wakil Sekjen Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Franky Sibarani, usai melakukan pertemuan dengan PLN, di Kantor Apindo, Menara Imperium, Kuningan, Jakarta, Jumat (9/7/2010).
"Intinya yang kita inginkan sejak awal yaitu memepertanyakan kebijakan energi primer atau political will dari pemerintah. Yang mana gas sebenarnya bahan bakar yang paling murah, tapi malah justeru di ekspor ke luar. Dari kebijakan energi primer tersebut kami sedang berpikir untuk melakukan class action terhadap kebijakan energi primer yang ditetapkan oleh pemerintah," jelas dia.
Dia juga mengatakan bakal mengirimkan surat pekan depan kepada pemerintah untuk menunda pemberlakuan tarif baru ini.
"Minggu depan pihaknya akan memberikan surat kepada pemerintah, khususnya menteri ESDM untuk melakukan penundaan pemberlakuan tarif baru ini, karena pemerintah tidak konsisten di mana awalnya dikatakan rata-rata kenaikan tarif 10 persen, tapi kenyataannya kenaikannya ini bisa sampai 80 persen," paparnya.
Selain itu, dia juga menyebutkan kenaikan TDL ini akan berdampak luas atas keberlangsungan kinerja perusahaan serta industri itu secara umum. Secara langsung, dampak pertama yang akan terjadi adalah pemutusan hubungan kerja (PHK).
"Pertama, dilihat secara garis besar langkah yang mungkin diambil pihak industri adalah penurunan jumlah karyawan atau terjadi PHK," ucapnya.
Kedua, investasi baru dipastikan bakal tertunda. "Misalnya ada yang dua sampai tiga tahun ekpansi, tapi dengan naiknya TDL diputuskan untuk ditunda," katanya.
Ketiga, daya saing industri dalam negeri pasti akan mengalami penurunan. "Daya saing industri dalam negeri melemah. Industri dalam negeri makin tidak akan bisa bersaing, baik produksi dalam negeri atau luar, sehingga akhirnya akan meningkatkan impor," pungkasnya.
(Widi Agustian)