JAKARTA - Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) menegaskan Indonesia sebagai produsen timah terbesar kedua harus mempunyai harga acuan Timah.
Hal ini disampaikan Direktur Utama ICDX Wiga Wijaya yang ditemui dalam acara peresmian Pasar Timah Indonesia di The Capital Building, Jakarta, Kamis (15/12/2011).
"Indonesia jadi produsen kedua setelah China, dan menjadi ekspor tertinggi. Tapi harga yang terbentuk dikendalikan oleh pelaku industri yang punya kepentingan sendiri dan cenderng merugikan kita sebagai produsen," ujar Wiga.
Menurutnya dengan acuan harga tersebut akan diproyeksikan mengurangi gagal bayar karena harga timah terus bergejolak. "Pasar timah dapat fasilitasi perdaganan timah yang terbuka, harga yang transparan. dan potensi gagal bayar dan gagal serah kalau dilakukan secara bilateral terutama ketika harga timah bergejolak," tegasnya.
Wiga mengatakan Indonesia sebagai pemasok timah terbesar di dunia harus mempunyai harga timah acuan. "Kemarin kita masih memakai harga London Metal Exchange (LME) sekarang kita punya harga acuan sendiri yaitu ICDX," jelasnya.
Dirinya berharap kedepannya Harga Timah Acuan atau INATIN menjadi acuan harga timah dunia. "Diharapkan harga acuan bukan dari negara lain, tetapi Indonesia yang menentukan harga timah dunia," harapnya.
(Widi Agustian)