JAKARTA - PT Pertamina (Persero) menargetkan, penjualan pelumas di dalam negeri bisa bertumbuh dua sampai tiga persen pada tahun ini.
Vice President of Lubricants PT Pertamina (Persero) Supriyanto DH mengatakan, penjualan pada tahun lalu adalah sekira 430 ribu kiloliter (kl). Saat ini, Pertamina telah menguasai porsi pasar pelumas nasional sekira 60 persen.
"Tahun lalu, konsumsi pelumas nasional sekira 720 ribu kl. Kami fokus mempertahankan pertumbuhan penjualan domestik seiring pasar,” kata Supriyanto di Jakarta, Senin (6/2/2012).
Sedangkan untuk porsi ekspor pelumas, lanjutnya, adalah 25 persen. Pertamina tengah membidik pasar ekspor di Seattle, Amerika Serikat (AS), Spanyol, Thailand, Dubai, dan Pakistan. Pasar-pasar ekspor baru itu akan mendongkrak ekspor hingga 27 persen dalam dua tahun mendatang.
“Untuk tahun ini, kami konsentrasi perkuat pasar di luar negeri. Target ekspor pelumas pada tahun ini adalah 180 ribu kl. Tahun lalu ekspor 116 ribu kl,” ucapnya.
Apabila pelumas Pertamina bisa diterima di pasar AS, maka, kata dia, Pertamina bisa membuktikan bahwa produk buatan perusahaan BUMN pelat merah ini sangat luar biasa.
"Merek dan kualitas yang kita pasarkan di dalam negeri sama persis dengan yang kita pasarkan di sini. Semua KW I,” paparnya.
Sementara kerja sama dengan Spanyol dan Pakistan menggunakan mekanisme co-branding. Di mana Spanyol menggunakan co-branding dan kerja sama dengan perusahaan di sana.
"Mereka menginginkan garap pasar bersama. Di beberapa lokasi akan kerja sama jadi kita hanya bawa formula atau resep masakan. Kita bawa ke sana, kita kontrol kualitasnya lalu mereknya punya kita lalu kita pasarkan," bebernya.
Menurutnya, Pertamina mempunyai tiga fasilitas lube oil blending plant (LOBP) di Indonesia. Adapun kapasitas produksi pelumas dari Pertamina adalah 560 ribu kl.
Saat ini, kata dia, Pertamina memasok sendiri untuk kebutuhan jenis lube base oil dan sintetik. Sedangkan untuk aditif, kata dia, masih diimpor dari empat produsen global.
"Kita tidak mau terus menerus impor hingga Rp1,5 triliun per tahun. Pabrik di Tanjung Priok sudah ada pabrik aditif. Penghematannya bisa Rp15 miliar per tahun. Karena itu, sejak dua tahun lalu, kami menekan ketergantungan impor aditif. Ke depan, kami perkuat pengembangan teknologinya untuk memperbanyak jenis aditif yang bisa kami produksi," jelasnya.