JAKARTA - Kuota premium dan solar di tahun 2012 mencapai sekira 38,3 juta kiloliter (kl). Sedangkan pada tahun 2025 diperkirakan kuotanya mencapai 69,2 juta kl.
Berdasarkan simulasi yang dilakukan Reforminer Institute, pada 2025 subsidi bahan bakar minyak menyentuh angka Rp308 triliun. Padahal, penerimaan dari minyak diperkirakan akan berkurang sebanyak Rp144 triliun karena produksinya yang terus menurun.
“Keadaan ini tidak dapat terus dibiarkan, harus ada langkah konkret mengurangi ketergantungan terhadap minyak,” kata Wakil Direktur Reforminer Institut Komaidi seperti dilansir dari situs BP Migas, Kamis (17/5/2012).
Hal senada diungkapkan Praktisi Migas Abdul Mu’in. Dia mengatakan, publik harus mulai sadar bahwa Indonesia memasuki masa krisis energi fosil, khususnya minyak. Menurutnya, sejak peak kedua tahun 1996 sebesar 1,6 juta barel minyak per hari, produksi minyak akan terus menurun. Pasalnya, 90 lapangan yang berproduksi masuk kategori tua (mature).
“Ditambah tidak ada lagi temuan yang tergolong lapangan besar, kecuali lapangan Banyu Urip (blok Cepu), Cadangan blok Cepu yang diperkirakan sebesar 450 juta barel pun jauh lebih kecil dibanding lapangan Minas dan Duri di Riau yang cadangannya mencapai 4 miliar barel," tambah Mu’in.
Dia melanjutkan, peluang untuk meningkatkan cadangan masih terbuka karena dari 60 cekungan yang ada, baru 22 cekungan yang berproduksi. Kebanykan cekungan yang belum disentuh berada di kawasan Timur Indonesia yang selama ini terbuki memiliki cadangan gas yang cukup besar. Jadi tetap era minyak sudah habis, berganti dengan gas.
“Perilaku konsumsi minyak sudah semestinya diganti dengan gas, bahkan jika memungkinkan energi terbarukan,” tutup Mu’in.
(Widi Agustian)