SOLO – Krisis ekonomi global yang beberapa tahun belakangan ini menghempas negara-negara Eropa dan Amerika Serikat (AS), ternyata tidak berdampak bagi perekonomian Indonesia. Kalaupun ada, imbasnya kecil sekali.
“Karena ekspor Indonesia ke negara-negara Eropa dan Amerika hanya sebesar 25 persen saja, atau tidak besar,” ujar Director Of Graduate Study, Regional Science Cornell University, Prof Dr Iwan Jaya Azis, di Kampus Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret, Surakarta, Jawa Tengah, Kamis (4/7/2013).
Iwan mengatakan bahwa negara-negara di Asia seperti Singapura, Hong Kong, China adalah negara yang terpukul akibat krisis ekonomi Eropa dan Amerika. Karena negara tersebut ekspornya tinggi.
“Tetapi di antara negara Asia, China adalah negara yang paling terpukul akibat krisis Eropa dan Amerika,” jelasnya.
Iwan menjelaskan bahwa selama ini negara-negara seperti Indonesia, Filipina dan Thailand dan hanya melakukan ekspor di antara negara-negara Asia. Ekspornya hanya sebatas barang mentah hingga barang setengah jadi. Barang-barang setengah jadi kemudian disempurnakan menjadi barang jadi di negara-negara seperti China, Singapura, Hong Kong dan sebagian Malaysia.
“Oleh China, Singapura dan Hongkong itulah barang yang sudah jadi diekspor ke Eropa dan Amerika. Dan di antara negara tersebut, chinalah yang ekspornya paling besar. Sehingga wajar kalau China yang paling terpukul,” jelasnya.
(Widi Agustian)