JAKARTA - Pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali berada di bawah tekanan. Pada pembukaan perdagangan pagi ini, Rupiah dibuka di Rp12.000 per USD.
Melansir Bloomberg Dollar Index, Rabu (11/12/2013), Rupiah melemah 95 poin atau 0,80 persen menjadi Rp12.015 per USD, dari penutupan kemarin sore di kisaran Rp11.920 per USD.
Ekonom Samuel Sekuritas, Rangga Cipta, mengungkapkan walaupun data Wholesale Inventories AS diumumkan lebih dari harapan, negosiasi pemangkasan anggaran belanja negara AS di 2014 menjadi yang paling ditunggu oleh pasar.
Setelah kesepakatan untuk menjalankan pemangkasan anggaran belanja negara secara otomatis sebesar USD60 juta selama dua tahun ke depan tercapai, kekhawatiran bahwa itu akan menghambat pemulihan ekonomi kembali muncul.
"Akan tetapi finalisasi dari keputusan tersebut masih harus melalui persetujuan resmi dari Dewan Perwakilan Rakyat dan juga Senat AS," kata dia seperti dilansir dari situs Samuel Sekuritas, Rabu (11/12/2013).
Dia melanjutkan, Dollar Index sempat terpangkas 0,21 persen sampai dini hari tadi sementara tingkat imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun 3,83 basis poin.
"Mata uang utama dunia menguat bersama-sama, dipimpin oleh Australia dolar yang naik 0,43 persen. Sebaliknya, rupiah terlihat diliputi aksi jual di saat mata uang Asia lainnya menguat terhadap dolar AS," tukas dia.
(Martin Bagya Kertiyasa)