Rhenald juga menjelaskan bahwa porsi saham AirAsia yang dimiliki oleh Indonesia adalah sekira 51 persen, sementara sisanya dikelola induk perusahaannya di Malaysia. Sementara itu, perusahaan tersebut listing atau tercatat sebagai perusahaan terbuka di bursa Malaysia, sehingga Malaysia menjadi lebih banyak disorot dalam jatuhnya pesawat,
"Jadi di situ yang justru menjadi sorotan adalah Malaysia karena house basenya AirAsia yang berada di Malaysia bukan di Indonesia. Oleh karena itu yang terkena sorotan publik terutama peristiwa ini adalah AirAsia Malaysia, dan yang menjadi pertanyaan adalah industri penerbangan Malaysia," papar Rhenald.
Menurut Rhenald, Indonesia justru mendapatkan sentimen positif dari kejadian tersebut dan apresiasi dari Internasional. Hal tersebut dilihat dari proses evakuasi dan investigasi yang hanya dilakukan selama dua hari oleh pihak Badan SAR Nasional (Basarnas).
"Malah justru industri penerbangan Malaysia yang dipertaruhkan dunia, kalau masalah AirAsia masih bisa diredam,karena sikap Tony Fernandes selaku CEO AirAsia telah menyatakan akan bertanggung jawab dan telah menunjukkan empati kepada keluarga penumpang secara baik," imbuhnya.
(Rizkie Fauzian)