Para pedagang beras yang tergabung dalam Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) menyatakan, melonjaknya harga beras beberapa waktu terakhir ini lebih disebabkan karena faktor suplai dan demand.
"Karena suplai dan demand saja. Kebetulan, kemarin di Pasar Cipinang demand-nya 3.500 ton, yang masuk hanya 1.000 ton, jadi pasti naik (harga)," ucap Ketua DPD Perpadi Nellys Soekidi di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (3/3/2015).
Namun dengan arahan dari Presiden Jokowi untuk menggelontorkan beras raskin dan beras operasi pasar, kata Nellys harga beras sudah mengalami penurunan harga
"Hari ini beras dari Demak Pati hari ini yang biasanya Rp10.400 per kg, hari ini Rp8.900 per kg artinya turun Rp1.500 per kg. Itu beras medium," sebutnya.
Nellys menambahkan, saat ini beras operasi pasar dari Bulog tetap dibanderol Rp7.400 per kg, sedangkan untuk beras super dibanderol Rp10 ribu per kg.
"Dan yang super Rp11 ribu sekarang Rp10 ribu per kg. Jadi penurunan Rp1.000-Rp1.500," jelasnya.
Selain itu, faktor mahalnya harga beras karena belum sampainya beras yang digelontorkan oleh Bulog.
"Bukan hanya itu saja, psikologis karena Cipinang itu cukup daerah-daerah juga oh Cipinang cukup, otomatis daerah-daerah turun. Jadi tidak perlu khawatir dengan harga beras," tukasnya.
(Rizkie Fauzian)