JAKARTA - Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Franky Sibarani menyatakan, pelemahan kurs Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tidak akan membuat para investor memundurkan langkahnya untuk berinvestasi di Indonesia. Pasalnya, investasi untuk waktu jangka panjang.
Tercatat, mata uang Garuda ini kembali terlempar ke level Rp13.000an per USD.
"Umumnya, investor melihat kurs ini tidak otomatis kemudian menunda dan membatalkan investasi, karena keputusan bisnis itu untuk investasi itu relatif jangka panjang," ucap Franky di Istana Negara, Jakarta, Kamis (5/3/2015).
Sehingga kata Franky, sampai saat ini tidak ada kekhawatiran akan melemahnya Rupiah di mata investor. Hal ini tidak terlepas, investor juga melihat adanya perbaikan fundamental makro ekonomi Indonesia.
"Nah, sekarang ini yang kami lihat dari BKPM belum ada yang menyatakan bahwa dengan pelemahan ini kemudian investornya itu menunda atau membatalkan. Jadi relatif itu belum ada yang menyatakan mundur atau menunda," imbuhnya.
Kendati demikian, Franky menyebut pelemahan ini baru terjadi di dua bulan awal 2015, sehingga dampaknya belum terasa kepada investasi. Dirinya pun mempercayai, Rupiah akan menguat.
"Itu ingat juga masih di Januari-Februari dan belum melihatnya secara signifikan dampaknya kepada investasi," jelasnya.
Penguatan Rupiah ini lanjut Franky mengungkapkan, karena adanya investasi yang akan masuk.
"Karena akan lebih banyak arus modal yang masuk. Apakah barang modal, bahan baku, tapi semakin tingginya investasi khususnya FDI akan lebih bisa menstabilkan rupiah dalam seperti ini," tukasnya.
(Fakhri Rezy)