Rapuhnya Fundamental Ekonomi Jadi Penyebab Pelemahan Rupiah

Dhera Arizona Pratiwi, Jurnalis · Minggu 29 Maret 2015 21:12 WIB
https: img.okezone.com content 2015 03 29 278 1126121 rapuhnya-fundamental-ekonomi-jadi-penyebab-pelemahan-rupiah-5FDuJwPuqO.jpg Ilustrasi: Shutterlock

JAKARTA – Rapuhnya fundamental perekonomian Indonesia dinilai terkait dengan pelemahan Rupiah yang terjadi saat ini. Rupiah hingga saat ini kembali melemah ke level Rp13.000 per USD.

"Saya telah sampaikan kepada pemerintah, bahwa masalah pelemahan Rupiah ini memang terus terjadi, karena salah satunya adalah karena fundamental perekonomian Indonesia yang rapuh," kata Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia, Natsir Mansyur di dalam sebuah acara diskusi bertajuk 'Gejolak dan Masa Depan Rupiah' di Senayan City, Minggu (29/3/2015).

Lebih lanjut, dia mengatakan terdapat beberapa faktor yang menyebabkan fundamental perekonomian Indonesia rapuh. Pertama adalah faktor defisit transaksi perdagangan.

"Sebanyak 75 persen kita impor bahan baku untuk industri manufaktur. Karena industri hulu kita tidak jalan, seperti program hilirisasi mineral maupun pangan," jelas dia.

Program hilirisasi tersebut dinilai Natsir harus dijalankan sendiri oleh industri, karena hal tersebut tidak akan menyehatkan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) apabila terus ketergantungan.

"Apa yang terjadi kalau suatu negara hanya mengandalkan APBN? Itu tidak sehat. Harus dari industri itu sendiri," ungkapnya.

Lebih lanjut, faktor lain adalah impor migas Indonesia yang mencapai 45 persen. Begitu pula dengan industri pangan Indonesia yang juga mengimpor bahan baku sekira 60 persen.

"Negara kita luas, kita harus bisa swasembada beras dan kedelai. Yang strategis itu beras, gula, kedelai dan jagung," tegas dia.

Faktor terakhir terkait rapuhnya fundamental perekonomian Indonesia disebutkan Natsir adalah jasa. Industri penerbangan di Indonesia bertransaksi menggunakan dolar Amerika Serikat (USD).

"Siapa pun yang punya airlines, pasti bayar sewanya pakai dolar AS. Yang banyak menggunakan jasa itu adalah industri penerbangan," tutupnya.

(rzk)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini