Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Franky Sibarani mengatakan, untuk proyek listrik ini pemerintah tidak lagi menerima investor yang menggunakan Bahan Bakar Minyak (BBM), hanya energi terbarukan.
"Ada dua yang diharapkan. Pertama dorong pembangkit listrik dengan new renewable energy, bukan solar lagi, tapi lebih ke perhatikan lingkungan," kata Franky di Istana Negara, Jakarta, Selasa (5/5/2015).
"Kedua tidak tergantung pada satu negara. Jadi investor AS tentu diberikan ruang untuk bisa partisipasi bangun pembangkit listrik 35 ribu mw," sambungnya.
Franky pun membocorkan, ada perusahaan AS yang sudah berminat untuk membangun pembangkit listrik 35 ribu mw, yakni General Electric (GE). "Tapi kita fasilitasi harus perhatikan misalnya soal harga. Dalam proses itu Tadi pak Menko yang jelaskan," jelasnya.
Menurutnya, perusahaan GE belum mengajukan secara formal pembangunan pembangkit listrik 35 ribu mw ini. Meski demikian, pemerintah akan mempertimbangkan jika perusahaan ini meminta tax allowance maupun tax holiday.
"Kita pada dasarnya salah satu yang terbuka dengan potensial investor. Dan Amerika adalah salah satu yang paham mengenai prinsip berbisnis di Indonesia. Umumnya kami memberikan dukungan terhadap investor-investor mereka, dan kami sudah tindak lanjuti beberapa di antaranya," tukasnya.
(Martin Bagya Kertiyasa)