Sejak 2011, Jakarta memiliki Go-Jek, yakni transportasi berupa sepeda motor yang dapat dipesan melalui aplikasi telepon (mobile app). Dengan menggunakan aplikasi tersebut, calon penumpang dengan mudah memesan Go-jek di manapun dan kapan pun.
Namun, siapa sangka jika ketenaran Go-Jek saat ini justru tidak melibatkan iklan apapun, baik di televisi, radio, Koran, atau sarana iklan lainnya. Go-Jek dikenal karena menggunakan media online.
Guru Besar Universitas Indonesia (UI) Rhenald Kasali mengatakan, perkembangan iklan di media online tergantung dari kebutuhan hajat. Menurutnya, ide Go-Jek sangatlah kreatif, terutama karena menggunakan atribut sebagai media promosi.
“Strategi bisnis Go-Jek sangat bagus, Go-Jek menggunakan atribut seperti helm dan jaket untuk memperkenalkan bisnisnya ke banyak orang, artinya Go-Jek telah mempromosikan dengan beriklan melalui atributnya,” jelasnya ketika dihubungi Okezone, Kamis (18/6/2015).
Selain itu, aplikasi mobile yang dimiliki oleh Go-Jek membuat komunikasinya dengan konsumen bagus. Artinya, dengan aplikasi ini, otomatis Go-Jek memiliki pelanggan tetap.
“Bisnis yang bersifat mobile membuat komunikasinya dengan konsumen menjadi bagus. Go-Jek ini memiliki pelanggan tetap, kelas menengah pun membutuhkannya," kata dia.
Selain masyarakat yang diuntungkan dengan kemudahan angkutan ini, pemiliknya yaitu Nadiem Makarim juga telah dikenal orang banyak.
Go-Jek juga menyasar bisnis lainnya seperti mengantarkan makanan. Jadi masyarakat yang ingin memesan makanan tertentu dapat menghubungi Go-Jek dan langsung diantarkan, layanan ini juga bebas biaya ongkos kirim.
"Selain mengantar penumpang, uniknya dari Go-Jek ini juga bisa memesan makanan tanpa ongkos kiriman alias gratis. Maka tak heran jika Go-Jek mendapatkan pujian dari masyarakat," ucapnya.
(Rizkie Fauzian)