Meski demikian, Direktur Executive Energy Watch, Mamit Setiawan, memprediksi hal ini takkan berlangsung lama. Ia memprediksikan jika harga minyak dunia akan mengalami kenaikan hingga akhir semester mendatang.
"Kemungkinan untuk triwulan 30-35 (dolar Amerika) per barel. Untuk satu semester sekira 38 (dolar Amerika) perbalel," ujarnya kepada Okezone, Sabtu (16/1/2016).
Menurutnya, ini diyakinkan dengan melihat cadangan minyak Amerika yang semakin berkurang. Ditambah konflik dua negara raksasa penghasil minyak yang menyebabkan embargo ekonomi pada Iran, sehingga Iran tak dapat melakukan ekspor global minyak miliknya. Hal tersebut membuat kondisi minyak dunia yang oversuplay kian dapat dikendalikan.
(Fakhri Rezy)