"Saya yakin pasar akan tetapkan di kisaran USD 30 per barel," ujarnya kepada Okezone, Jakarta (16/1/2016).
Menurutnya, bila harga minyak dunia berada di bawah level tersebut, maka akan membuat banyak negara penghasil minyak mengalami kerugian sehingga berimbas pada kondisi pasar global.
"Pasar global nanti semakin terguncang," jelas Mamit.
Mamit juga menuturkan bila prediksi IMF pada akhir 2015 lalu dinyatakan sebelum terjadinya konflik antara Iran dengan Arab Saudi. Dengan adanya konflik tersebut justru dapat membuat harga minyak dunia naik. Pasalnya, Arab Saudi dan Iran merupakan negara penghasil minyak yang besar di dunia sehingga dapat mempengaruhi penentuan harga minyak.
(Fakhri Rezy)