"Tapi kami patut bersyukur bahwa segala upaya yang kami lakukan sudah baik. Rasio current account deficit atau defisit transaksi berjalan kita itu 2 persen di akhir 2015. Upaya ini hasil kebijakan yang dilakukan BI," sebutnya.
Di sisi lain, transaksi hedging BUMN juga mengalami peningkatan. Hendar mengatakan, peningkatan tersebut sesuai arahan Kementerian BUMN yang meminta perusahaan negara bisa menjadi contoh bagi perusahaan swasta dalam menjalankan transaksi lindung nilai.
Dia menyebut BUMN yang mendorong peningkatan transaksi ini antara lain Pertamina, PLN, Garuda Indonesia, Petrokimia Gresik, Semen Gresik dan Semen Padang.
"Transaksi beli BUMN itu USD1,9 miliar di 2015 atau naik 200 persen dibanding 2014 yakni USD580 juta," kata Hendar
(Martin Bagya Kertiyasa)