KARANGANYAR – Mainan anak berbahan kayu buatan T Sugiyarto memiliki pangsa pasar tersendiri meski produk serupa mulai tergerus permainan digital. Mainan sederhana dari bengkel kerjanya di Dukuh Blora RT 04/XII Desa/Kecamatan Karangpandan, Karanganyar ini dikirim ke berbagai kota besar di Indonesia.
Ditemui di kediamannya, pria paruh baya ini tengah mengemas pesanan di beberapa kardus berisi mainan kayu. Rencananya, pesanan itu akan dikirim ke rekanan asal Bandung, Bogor, Jakarta dan Semarang.
Di tangan pembeli, satu buah bisa Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu. Bentuknya bermacam-macam, seperti kupu-kupu, burung, aneka hewan, karakter animasi hingga alat utama sistem senjata (alutsista).
Semua memiliki ciri serupa, yakni menimbulkan bunyi erek-erek ada juga menyebutnya othok-othok begitu bandul pegangan digoyangkan. Ada pula yang berbunyi saat bantalan mainan roda mainan didorong atau diseret. Lemah atau kerasnya bunyi ketukan tergantung intensitas gerakan mainan.
Tak heran harga mainannya mampu bersaing karena berbekal bahan baku limbah industri mebel kayu serta tak terlalu sukar mengerjakannya. Terlebih, masih banyak orang tua yang menginginkan mainan murah dan aman bagi anak-anaknya.
"Pasarannya masih luas. Tidak kalah dengan mainan zaman sekarang yang memakai baterai,” terang pemilik label mainan Titofi Handicraft ini, seperti dilansir dari KRjogja.com.
T Sugiyarto meniti sukses mulai dari nol. Setelah berulangkali jatuh bangun merintis berbagai usaha, lantas memulai pembuatan kerajinan mainan kayu pada tahun 2009. Dari semula mencoba secara otodidak kemudian mantan teknisi maintenance sebuah perusahaan minyak dalam negeri ini mengerjakan riset sebelum mengadopsi berbagai rupa.
“Kalau pas ikut pameran, kan banyak pembeli dari luar negeri yang datang. Ada yang dari Ceko, Swedia, Australia, Belanda, dan lainnya. Pernah juga, mainan saya diborong orang dari Kedutaan Besar Amerika Serikat,” ungkapnya.
(Amril Amarullah (Okezone))