JAKARTA - Perdana Menteri Inggris, David Cameron memperingatkan pensiun dan pengeluaran yang tinggi serta dalam bahaya jika para voters memilih untuk Brexit atau British Exit.
Jajak pendapat menunjukkan bahwa mayoritas orang Inggris yang mendukung meninggalkan Uni Eropa (EU). Untuk itu, Cameron mengingatkan, perlunya untuk menghadapi kenyataan dingin dari penghematan yang akan diperlukan jika Inggris keluar dari Uni Eropa.
Dia menyebutkan sebuah penelitian oleh Institut Studi Fiskal dan Institut Nasional untuk Kebijakan Ekonomi dan Sosial yang menunjukkan Brexit akan menciptakan sebuah lubang hitam atau utang hingga 40 miliar pound di Inggris pada tahun 2020.
"Anda harus mulai memotong hal-hal yang orang benar-benar nilai, apakah itu uang layanan kesehatan negara atau apakah itu dukungan untuk sistem pensiun kita, yang mengacu pada tiga kunci," kata Cameron mengutip CNBC.
[Baca juga: G7 Sebut Brexit Sebagai Pukulan Serius Ekonomi Global]
Tiga kunci yang dimaksud adalah jaminan bahwa pendapatan pensiunan akan mengalami kenaikan seiring dengan yang lebih tinggi, seperti laba, inflasi atau 2,5 persen.
Seperti diketahui, Inggris akan mengadakan pemungutan suara atas nasibnya dalam Uni Eropa (UE) pada 23 Juni mendatang. Perusahaan rating kredit, Standard & Poor's Corp memperingatkan nilai properti bisa anjlok jika Inggris akhirnya memenangkan suara untuk meninggalkan blok perdagangan.
Berdasarkan observasi, voting terhadap Brexit ini yang menunjukkan 55 persen responden percaya Inggris harus meninggalkan Blok perdagangan anggota Uni Eropa. Sedangkan, 45 persen masih percaya agar Inggris tinggal di Uni Eropa.
Pound turun sebanyak 1,2 persen terhadap dolar setelah jajak pendapat yang diterbitkan. Sedangkan FTSE 100 ditutup turun hampir 1,9 persen pada 6.115,76 poin.
(Raisa Adila)