Putaran Pertama Rapat Brexit, Apa Hasilnya?

Jum'at 06 Maret 2020 16:27 WIB
https: img.okezone.com content 2020 03 06 320 2179273 putaran-pertama-rapat-brexit-apa-hasilnya-lTLPzAURAY.jpg Brexit (Reuters)

JAKARTA - Uni Eropa dan Inggris menggarisbawahi perbedaan besar antara keputusan mereka akan Brexit. Sementara perundingan perdagangan putaran pertama berakhir di Brussels, tanpa adanya kemajuan tentang masalah yang paling diperdebatkan.

Mengutip VoA Indonesia, Jakarta, Jumat (6/3/2020), kedua pihak berupaya membangun dasar-dasar baru bagi masa depan hubungan Uni Eropa-Inggris, sebulan setelah Inggris meninggalkan Uni Eropa, mengakhiri 40 tahun keanggotaan yang sering kisruh.

 Baca juga: Inggris Tolak Pengawasan Perdagangan Pasca-Brexit oleh Uni Eropa

Kepala perunding Uni Eropa Michel Barnier menegaskan, meskipun pembicaraan tampak ramah, ‘sejumlah perbedaan serius’ masih ada setelah pertemuan empat hari di Brussels yang melibatkan sejumlah pejabat dari masing-masing pihak.

Pemerintah Inggris memberikan analisis yang serupa, dan sekaligus memperingatkan bahwa meskipun “terdengar konstruktif ..., ada perbedaan yang signifikan," kata seorang juru bicara.

 Baca juga: Brexit, Inggris Bakal Bahas soal CPO Indonesia

Adanya perbedaan posisi telah diketahui sejak lama, karena Inggris bertekad untuk bebas dari berbagai ketentuan yang diberlakukan Uni Eropa sementara Uni Eropa sendiri berkeras menegakkan sejumlah standar tentang kesehatan, dana bantuan Eropa dan lingkungan.

"Inggris menggunakan banyak waktu minggu ini dan berkeras tentang kemerdekaannya. Saudara-saudara, tak seorangpun, tidak seorang pun meragukan kebebasan Inggris," kata Barnier lebih lanjut.

 Baca juga: Brexit, Inggris Optimis Ekonomi Tetap Tumbuh

Barnier mengemukakan perundingan macet dalam semua masalah ini termasuk kemampuan untuk memastikan persaingan yang adil dengan perusahaan Inggris, yang sering disebut sebagai ‘upaya menjaga peluang dan kesempatan yang setara.’

Masalah lain adalah keengganan Inggris menerima yurisprudensi pengadilan tinggi Uni Eropa, dan juga Pengadilan Eropa tentang Hak Asasi Manusia. Inggris berpendapat perbedaan pendapat itu bukan tuntutan yang umum dalam perjanjian perdagangan.

Terkait dengan perlindungan hak-hak warga Eropa, interpretasi hukum Eropa akan dan hanya dapat dilakukan oleh pengadilan Uni Eropa.

Penangkapan ikan tetap menjadi masalah utama karena Inggris berupaya memperketat pengawasan atas wilayah perairannya.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini