NUSA DUA – Harga timah dunia terus bergerak mencari titik keseimbangan baru. Setelah sempat turun akibat kondisi ekonomi global yang melambat, harga timah diperkirakan kembali membaik tahun depan.
Market Analysis International Tin Research Institute (ITRI) Peter Kettle menyampaikan, berdasarkan analisis yang dilakukan, keseimbangan harga timah dunia akan terbentuk pada 2020. ”Harga timah akan menyentuh level USD22.500-23.000 per metrik ton dengan asumsi permintaan akan timah tumbuh menjadi lebih dari 280.000 metrik ton.
Market diharapkan bisa melebihi level itu tahun depan karena butuh beberapa saat sampai bisa meningkatkan produksi,” ujarnya di sela-sela acara Internasional Tin Conference and Exhibition 2016 di Nusa Dua, Bali, Selasa (20/9). Peter melanjutkan, harga timah akan membaik pada 2017 karena pasokan ke pasar global yang cenderung rendah.
Saat ini produksi timah Indonesia stabil di kisaran 60.000 - 65.000 metrik ton per tahun. Regulasi industri timah juga semakin baik dalam beberapa tahun terakhir. ”Jangka panjang, Indonesia masih akan berada di posisi bagus. Sumber daya timah akan terus dijaga produksinya. Tahun mendatang prediksi produksi timah bisa bertambah 5.000 metrik ton, tapi tidak lebih dari itu,” ujarnya.
Peter menuturkan, tantangan utama bagi industri timah adalah rencana kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral AS (The Fed) dan perlambatan ekonomi China. ”Ada sedikit guncangan, tapi akan baik. Karena pasokan tetap rendah, konsumsi juga stabil,” katanya. Menurut Peter, isu lingkungan sangat penting dalam beberapa tahun terakhir sehingga mendorong perusahaan fokus dalam hal ini.