JAKARTA - Kreativitas yang dibalut dengan dengan media sosial ternyata mampu menjadi bisnis yang sangat menguntungkan. Hal itu telah dibuktikan oleh Yana Ristia seorang perajin bunga yang dibuat dari kertas alias paper flower.
Saat berbincang dengan Okezone, Yana mengungkapkan, ide bisnisnya berawal ketika dirinya hendak dilamar oleh kekasihnya pada 8 Agustus 2016. Saat itu ia ingin rumahnya tampak berbeda demi menyambut keluarga kekasihnya yang hendak silaturahmi ke rumah.
"Saya butuh dekorasi ruangan, tapi yang enggak biasa dengan yang lain. Munculah ide bikin paper flower. Saya belajar dari Youtube," kenangnya.
Tak disangka, ternyata Yana memiliki bakat untuk membuat paper flower. Bunga-bunga kertas penuh warna tampak indah menghiasi dinding rumahnya.
Merasa bangga dengan hasil jerih payahnya itu, Yana lantas mengunggahnya ke akun media sosial seperti Instagram dan Path. Niat awal hanya untuk pamer, ternyata teman-temannya antusias dengan paper flower buatannya. Dari situlah terbesit ide untuk menjadikannya sebagai peluang usaha.
"Sebenarnya pacar saya yang dorong untuk jadi bisnis. Dia bilang ke teman-temannya untuk re-post postingan foto itu. Kalau di repost bakal dapat diskon 50%. Benar saja banyak yang repost," tuturnya.
Dengan respons yang positif, wanita berusia 24 tahun itu pun semakin yakin untuk mendirikan bisnis. Pada awal September 2016 akhirnya Yana mendeklarasikan bisnisnya dengan membuat akun instagram paper_flower_jkt yang kini menjadi bendera bisnisnya.
Saat itu dia menghargai 1 paket sebanyak 35 bunga kertas seharga Rp350 ribu. Namun, karena terlalu nafsu mendirikan bisnis, Yana belum mendapatkan hitung-hitungan yang tepat untuk mendapatkan margin profit.
"Dari segi material sebenarnya tidak rugi. Tapi pengerjaannya itu susah banget. Saya merasa untungnya belum sesuai dengan apa yang saya kerjakan," katanya.
Yana mengaku, untuk mengerjakan pesanan yang datang sebanyak 7-11 pesanan per minggu, ia harus rela begadang semalaman. Akhirnya Yana me-review kembali hitung-hitungan bisnisnya. Yana mematok harga yang terdiri dari 3 paket, yakni Rp500 ribu, Rp750 ribu dan Rp1 juta.
Selain itu, Yana juga memberdayakan ibu-ibu di sekitar rumahnya untuk membuat bunga-bunga kertas tersebut. Ada sekira 4-5 ibu-ibu yang diberdayakannya dengan bayarannya Rp33 ribu-Rp53 ribu per bunga tergantung tingkat kerumitannya. Saat ini Yana hanya menyortir bunga-bunga yang telah dibuat oleh ibu-ibu tersebut.
"Sampai sekarang masih terima terus ibu-ibu yang mau belajar. Semakin banyak semakin banyak juga pesanan yang bisa ditampung," tuturnya.
Untuk saat ini, Yana membatasi pesanan hanya 7-8 pesanan per minggu. Hal itu lantaran keterbasan SDM yang dimilikinya. Selain itu, dia juga tak mau terlalu serakah mengambil pesanan namun kualitas dari bunga kertasnya terbengkalai.
Akan tetapi dari 7-8 pesanan itu saja, Yana sudah meraup omzet Rp4 juta-Rp5 juta per minggu. Jika dikalikan dia mampu meraup omzet Rp16 juta-Rp20 juta per bulan. Yang lebih menggiurkan lagi, dari omzet tersebut dirinya mengantongi profit bersih sekira Rp12 juta-Rp15 juta per bulan. Sebab biaya operasionalnya hanya 25%-30% dari omzet.
"Margin profit itu 70%-75%, itu bersih sudah bayar ibu-ibu. Kalau kerjain sendiri biayanya paling cuma 10%," akunya.
Sebenarnya tak ada yang spesial dari strategi promosi yang dilakukannya. Yana hanya menggunakan fasilitas Instagram ads untuk memperluas jangkauan penjualan. Biaya yang dikeluarkan untuk promosinya itu juga hanya Rp600 ribu per bulan.
Namun dengan kualitas yang terus dijaga, banyak dari pelanggannya yang ikut mempromosikan Paper Flower Jakarta ke teman-temannya. Selain kualitas Yana juga menyediakan beragam varian hiasan kertas tersebut seperti serangkaian daun, pita dan kupu-kupu.
"Sekarang saya mau lebih menjaring party planner, lalu ada rencana buka showroom kecil-kecilan. Targetnya awal tahun depan," tuturnya.
Showroom akan dibuat lantaran Yana berencana akan meningkatkan bisnisnya dengan menyewakan backdrop berhias bunga kertas. Sebab marak permintaan dari pelanggan korporatnya.
Modal: Rp5,6 Juta (bulan pertama)
- Bahan baku (kertas, lem, doubletip): Rp2 juta
- Asumsi ongkos pekerja 5 orang: Rp3 juta
- Biaya promosi Instagram ads: Rp600 ribu
Perkiraan pesanan per minggu (8 x Rp500 ribu) : Rp4 juta
Asumsi omzet per bulan (Rp4 juta x 4) : Rp16 juta.
Profit: Rp16 juta - Rp5,6 juta= Rp11,4 juta (dng)
(Rani Hardjanti)