Sebab jumlah pembeli di warungnya yang berlokasi tak jauh dari Kantor Samsat Kota Tegal tidak selalu ramai. “Kalau pas Samsat lagi ramai, baru pembeli ramai,” ungkapnya. Selain mengurangi jumlah cabai yang dibeli, Eni juga terpaksa mengurangi jumlah sambal yang dibuat. Terkadang sambal yang dibuat juga dicampur dengan tomat. Akibatnya, dia kerap diprotes oleh pembeli.
Setali tiga uang, Ina, 50, pemilik sebuah warung makan di tepi Jalan Raya Balapulang, Kabupaten Tegal juga mengeluhkan kenaikan harga cabai. Cabai sudah kebutuhan warung makan saya karena sudah satu paket sama menunya. Jadi harus beli walaupun harganya lagi mahal, ujarnya . Eni mengaku tidak mengurangi jumlah pembelian cabai. Sekali berbelanja, dia biasanya membeli berbagai jenis cabai sebanyak 2 kg.
“Paling banyak cabai rawit merah. Biasanya hanya Rp20.000 hingga Rp30.000 untuk beli cabai. Sekarang sampai Rp150.000,” katanya. Eni berharap harga cabai bisa segera turun. Sebab dia tidak bisa mengurangi sambal yang dibuatnya. Jika harga cabai terus merangkak naik, maka penghasilan warung Eni dipastikan akan ikut turun untuk menutup biaya membeli cabai yang membengkak. Otomatis pengeluaran untuk beli cabai nambah banyak.
Karena kalau mengurangi sambal yang dibuat tidak bisa. Seperti diketahui, harga sejumlah jenis cabai terus meroket karena pasokan yang berkurang di pasar. Di Pasar Pagi Kota Tegal cabai rawit merah harganya Rp100.000 per kg. Padahal normalnya harga cabai jenis ini Rp60.000 per kg. Sementara itu di Kota Semarang, harga cabai yang mencapai Rp100.000 per kilogram juga membuat kelimpungan pemilik warung makan.
Masak harga cabai saja sama harga daging, keluh Mbak Titin, pemilik warung makan di kawasan Stadion Citarum. Dia mengaku bingung karena harus menyediakan menu masakan pedas seperti mangut pedas. Akhirnya dia harus mengurangi takaran cabainya dan berdampak berkurangnya rasa pedas.