JAKARTA - Bisnis dan strategi memang merupakan kalimat yang tidak bisa dipisahkan. Keduanya laksana satu kesatuan yang akan terus mengikuti alur dan proses bisnis. Jadi apapun jenis dan modelnya, strategi bisnis merupakan hal yang sangat krusial guna memenangkan kompetisi bisnis.
Strategi bisnis itulah yang sebenarnya diperlukan para pelaku bisnis di Yogyakarta yang saat ini tengah mengalami kendala dalam mengembangkan bisnisnya, khususnya bisnis apartemen. Ya, siapa yang tidak tertarik dengan potensi Yogyakarta yang dikenal sebagai Kota Pelajar ini?
Hingga tahun 2015 – 2016, berdasarkan data yang di himpun oleh BPS Yogyakarta, jumlah mahasiswa yang terdaftar dari sekitar 10 Universitas, Sekolah Tinggi, Politeknik, dan Akademi di kota Pelajar ini berjumlah, 113.672 untuk mahasiswa dan 4.912 untuk dosen.
Sementara satu hal yang selalu dibutuhkan ketika seorang pelajar atau mahasiswa masuk ke Yogyakarta adalah tempat tinggal atau biasa disebut kos-kosan. Berkembangnya bisnis apartemen di Jogja mulai tahun 2014, memang pada akhirnya membawa beragam konsekuensi.
Seperti yang disampaikan oleh Adieb Nu’man, Owner Omah Jogja Properti, konsekuensi tersebut adalah masalah keterbatasan lahan yang ada di Kodya dan Sleman sebagai lokasi yang paling banyak terdapat sekolah dan kampus. Karenanya, Pemerintah Daerah menggunakan sistem kuota untuk membatasi pembangunan yang ada di Jogja.
Lalu masalah batas ketinggian yang menjadi kendala teknis bagi pengembang ketika mereka ingin merencanakan sebuah bangunan seperti apartemen. Sekedar informasi, tinggi pembangunan gedung di Kota Yogyakarta tidak boleh lebih dari 32,5 meter atau delapan lantai dari permukaan tanah.