"Ada juga pengepul yang menjual sendok ini sampai ke Malaysia. Saya tidak perlu merk dagang, karena seperti ini saja sudah laku," kata Yansen ketika ditanya alasannya tidak mengurus merk dagang dan badan hukum untuk kerajinannya.
Ia mengatakan, salah satu alasan kerajinan sendok di Pekanbaru banyak tutup karena sulit mendapat akses modal ke perbankan. Menurut dia, kalangan perbankan sering memandang mata usahanya karena disangka tidak layak dapat bantuan kredit.
"Padahal, kalau saya dibantu pinjaman Rp20 juta saja, itu yakin saya bisa lunasi dalam setahun. Tapi, usaha sering dipandang dengan sebelah mata," keluh Yansen.
Apabila mendapat "suntikan" modal, ia mengatakan akan menggunakannya untuk menambah perajin dipercetakan menjadi dua orang. Sebabnya, usaha yang sekarang modalnya tidak cukup untuk mengejar permintaan yang meningkat pada saat bulan Ramadan ini.
(Fakhri Rezy)