Dari sisi pengadaan lahan, Aditya mengatakan, sudah pasti memerlukan waktu dan biaya tinggi, karena sebetulnya jarak 148 km bukanlah jarak yang pendek. Artinya, bahwa untuk menyesuaikan dengan target pengoperasian kereta pada 2019 sudah pasti tidak mungkin.
"Jadwal pembangunan sendiri dijadwalkan dua tahun, itu kan kompleks," ujarnya.
Kemudian, struktur tanah antara Jakarta-Bandung terutama yang ada di daerah Priayangan antara Purwakarta dan Padalarang, topografi area akan sama dengan Jalan Tol Purbaleunyi. Area tanah di wilayah tersebut adalah lahan labil.
Oleh karena itu diperlukan kajian pembangunan kereta yang betul-betul mendalami ini karena berkaitan dengan keselamatan, kelaikan fungsi dan lainnya. Jangan sampai seperti Tol Cipularang-Purbaleunyi, di mana Jembatan Cisomang mengalami keretakan atau bbeberpa spot-spot tertentu ambles hingga longsor.
Baca juga: Catat! Ini Sederet Sindiran Jokowi untuk Proyek Kereta Cepat yang Lelet