Wih, PT Timah Targetkan Kenaikan Pendapatan 2 Kali Lipat pada 2017

Trio Hamdani, Jurnalis
Selasa 08 Agustus 2017 14:14 WIB
Ilustrasi: (Foto: Shutterstock)
Share :

JAKARTA - PT Timah (Persero) Tbk (TINS) menargetkan pendapatan perseroan sampai dengan akhir 2017, tumbuh 2 kali lipat dibandingkan 2016. Adapun pendapatan perseroan pada 2016 tercatat sebesar Rp 6,97 triliun.

"Kami tetap konsisten program yang sudah kami jalankan. Diharapkan perolehan pendapatan akan 2 kali lipat dari 2016," kata Direktur Keuangan PT Timah Emil Ermindra di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (8/8/2017).

Untuk menggenjot pendapatan sampai akhir 2017 agar sesuai target, perseroan terus memacu penjualan produk yang dihasilkan. Perseroan, kata dia, menargetkan penjualan produknya sepanjang 2017 di atas 30.000 ton.

"Sales PT Timah juga sudah ditargetkan 2017 kurang lebih di atas 30.000 ton, untuk sales. Ini dari produksi Indonesia 70.000-80.000 ton kurang lebih, produk logam dari Indonesia. Kita kontribusi 45% dari total produksi Indonesia," paparnya lagi.

Baca Juga: 

Pihaknya mengaku optimis bahwa target pendapatan sampai akhir 2017 bisa tercapai. Apalagi, kata dia, produksi yang dihasilkan perseroan hingga Juni ada tren peningkatan. "Untuk produksi Juni ada kenaikan karena perubahan harga signifikan. Memang stok juga dikeluarkan untuk dijual," lanjutnya.

Namun, dia mengakui bahwa tahun lalu industri timah khususnya yang dijalankan oleh perseroan ada sedikit perlambatan meski laba dan pendapatan meningkatkan tahun lalu. Industri timah diyakininya tahun ini akan tumbuh.

"Target kalau kita lihat tahun lalu timah rugi karena musim. Jadi operasi rendah, tapi lihat perbaikan operasi produksi sampai Juli ini kita tetap dapat capai target RKAP (Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan) 2017," lanjutnya.

Ditambahkannya, dalam meningkatkan kapasitas produksi, perseroan juga memerhatikan produk di sektor hilir. Diharapkan, itu turut mampu berkontribusi dalam meningkatkan kapasitas produksi.

Baca Juga:

Di sisi lain, Timah juga menyiapkan belanja modal untuk membangun smelter yang memproduksi timah low grade (timah primary) senilai Rp500 miliar hingga Rp560 miliar. Hal itu guna berjaga-jaga apabila cadangan timah dengan kualitas baik perseroan menipis.

Dana tersebut, kata Direktur Keuangan PT Timah Emil Ermindra akan dialokasikan untuk mengembangkan teknologi yang mampu menjaring timah dalam kualitas rendah. Sebab teknologi yang dibutuhkan berbeda dengan teknologi untuk produksi timah pada umumnya yakni timah alluvial.

"Investasi smelter low grade kita butuh uang Rp500 miliar-Rp560 miliar. Karena kadar tanah, kadar sn (timah) itu semakin rendah, butuh teknologi yang lebih baik untuk mengolah itu," paparnya lagi.

Direktur Operasi dan Produksi TINS Alwin Albar ikut menekankan, alasan perseroan mulai membidik timah low grade. Hal itu, kata dia sebagai strategi perseroan agar produksi tak menurun ketika timah alluvial menurun.

Baca Juga:

"Timah low grade untuk antisipasi kalau cadangan timah menurun. Kita percaya cadangan timah alluvial itu masih tersedia banyak, tapi untuk tingkatkan kapasitas produksi kita tambah dengan low grade," jelasnya.

Tambang timah perseroan di Bangka Belitung (Babel) kata dia pun masih cukup prospektif dari segi jumlah. "Kalau data deposit di Bangka 30 tahun lalu katanya saat ini akan abis tapi ini enggak abis-abis," paparnya.

"Yakin deh timah terus tumbuh. Kata orang Bangka, timah beranak enggak abis-abis. Kita masih punya cadangan 10 tahun lebih karena kita masih di luar-luar, 3 meter dari permukaan tanah (yang dieksplorasi)," lanjut dia.

Meski begitu, pihaknya berencana untuk membuka tambang timah baru di luar Babel untuk meningkatkan cadangan produksi perseroan. Namun pihaknya masih enggan mengatakan di mana lokasi tambang timah baru yang dibidik.

"Sekarang ada langkah cari di luar Babel tapi belum kita ungkap (lokasinya)," tandasnya.

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya