JAKARTA - Dalam rangka mendukung Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT), pemerintah akan memberlakukan transaksi non tunai untuk pembayaran tol. Pembayaran menggunakan kartu elektronik (e-toll) diterapkan 100% pada 31 Oktober 2017 di semua ruas tol Indonesia.
Berdasarkan data PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) ada sekira 1.150 gardu yang tersebar di seluruh Indonesia baik yang di miliki cabang dan anak perusahaan. Dengan jumlah gardu itu ada sekira penjaga gardu sebanyak tiga, artinya ada sekira 3.450 orang bekerja.
Lantas akan dikemanakan jumlah pekerja sebanyak itu, karena ke depan tidak ada lagi transaksi tunai yang membutuhkan penjaga ?
AVP Corporate Communication Jasa Marga Dwimawan Heru mengatakan, pada dasarnya dalam jumlah tertentu karyawan di gerbang tol itu tetap dibutuhkan meskipun elektronifikasi sudah 100%.
Di samping itu tentu, perseroan fokus kepada karyawan tetap yang sudah lama masa kerjanya.
"Ini kami mengkaji bagaimana memberdayakan mereka di unit kerja lain untuk tupoksi yang lain karena dalam dua sampai tiga tahun ke depan akan ada 600 kilometer jalan baru milik Jasa Marga," ujarnya di Kantor Pusat Jasa Marga, Jakarta, Jumat (22/9/2017).
Dengan adanya non tunai, tentu jumlah penjaga gardu yang tadinya tiga orang karena tiga shift tidak akan bekerja sepenuhnya di sana. Namun, ketika non tunai pun pekerja harus tetap ada, karena ada pelayanan ekstra yang harus diberikan kepada konsumen.
"Kan ada tombol darurat itu kan kalau dipencet ada yang membantu gitu. Kertas habis dan beberapa gardu kami yang belum memiliki Automatic Vehicle Classification (AVC) itu ada yang di dalam dia mecet ini yang datang golongan satu, tiga, supaya pengurangan saldo sesuai. Jadi betahap," tuturnya.
Sebenarnya, lanjut Heru, Jasa Marga sudah melakukan penyesuaian pembayaran elektronik sejak 2009. Di mana ketika itu masih 0% konsumen yang melakukan pembayaran elektronik.
"Ini kan kita berlakukan elektronifikasi 2009 sampai akhir 34% di tahun ini. Dari 34% itu kan tidak ada pengurangan pegawai," tandasnya.
(Dani Jumadil Akhir)