WASHINGTON - Negara-negara berkembang atau emerging markets akan menarik lebih dari USD1 triliun atau setara Rp13.500 triliun arus masuk modal dari investor asing pada 2017 untuk pertama kalinya sejak 2014, berkat pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dan meningkatnya selera risiko global. Demikian dikutip dalam laporan Institute of International Finance (IIF)
"Dengan pertumbuhan global berbasis luas dan inflasi masih terkendali, selera risiko (risk appetite) global telah mendekati tingkat tertinggi pasca krisis. Selain itu, pertumbuhan mengalami akselerasi lebih cepat di negara-negara berkembang daripada di negara-negara mapan, biasanya merupakan faktor penarik yang besar bagi investor," kata Hung Tran, direktur pelaksana di IIF.
"Mendorong revisi kami naik untuk 2017 adalah aliran masuk portofolio utang, ekuitas, dan perbankan yang lebih kuat daripada perkiraan. Kami melihat ini berlanjut ke tahun berikutnya," tambahnya.
Baca Juga: Yakinkan Kondisi Ekonomi Positif, Presiden Jokowi: Ingat, Saya Tiap Hari di Lapangan!
IIF mengatakan arus modal non-residen ke pasar negara-negara berkembang akan meningkat menjadi USD1,1 triliun pada 2017, merayap naik menjadi USD1,2 triliun pada 2018.
Ini menandai pemulihan menjadi empat persen dari produk domestik bruto (PDB) negara-negara berkembang dari hanya 1,5% dari PDB pada 2015, IIF mencatat dalam laporan tersebut, meskipun masih jauh di bawah puncak sebelum krisis sebesar sembilan persen dari PDB.
IIF mencatat bahwa satu alasan untuk rebound tahun ini, adalah terjadinya penurunan besar arus modal keluar negara-negara berkembang, dari lebih dari USD1 triliun pada 2016 menjadi sekitar USD770 miliar tahun ini. Oleh karena itu, arus modal bersih ke pasar negara berkembang telah berayun dari arus keluar bersih besar dalam beberapa tahun terakhir ke arus masuk bersih kecil.