Pengamat ekonomi dari lembaga CORE , Mohammad Faisal menilai, akibat mengerjakan proyek PSN, sejumlah BUMN Karya mengalami pembengkakan debttoequityratio (DER). Misalnya untuk pembangunan ruas Tol Trans Sumatera yang di kerjakan PT Hutama Karya atau pembangunan proyek LRT Jakarta yang dikerjakan Adhi Karya. ”Saya kira ini harus dievaluasi, dikhawatirkan nanti mereka tidak bisa memenuhi target-target dalam proyek strategis nasional yang dibebankan kepada BUMN ini. Karena ruang fiskal di APBN juga semakin sempit,” ujar dia.
Seperti diketahui, sejumlah BUMN Karya saat ini mengerjakan proyek-proyek infrastruktur khususnya pada Proyek Strategis Nasional (PSN). Adapun pemerintah memastikan bahwa proyek-proyek dalam PSN harus berjalan dan memiliki tenggat waktu dalam satu hingga dua tahun mendatang (2018-2019). ”Kalau kita lihat total nilai proyek strategis nasional itu bisa mencapai Rp1.200 triliun. Dengan kondisi keuangan seperti sekarang, perlu ada langkah-langkah terobosan. Penyertaan modal negara akan menjadi pilihan terakhir namun akan sulit,” ungkapnya.
Baca Juga: Banyak Pembangunan Infrastruktur, Dirut Askrindo: Jangan Hanya Jadi Penonton
Menurut Faisal, terobosan-terobosan tersebut salah satunya bisa dilakukan dengan mencontoh apa yang dilakukan BUMN Jasa Marga dengan sekuritisasi aset. ”Sekuritisasi aset atau profit aset yang pasti bisa dilempar kepada investor pembiayaan. Di satu sisi yang paling perlu dilakukan adalah evaluasi target,” paparnya. Dia menambahkan, BUMN yang mendapatkan penugasan pemerintah harus memastikan target-target yang diberikan.
Artinya, jika memang sudah sangat membebani kas, maka mau tidak mau pemerintah kembali harus turun tangan. ”Sebab, jangan sampai target tidak terpenuhi, kasnya juga berantakan. Jadi, harus evaluasi target-targetnya terutama di internal BUMN tersebut,” katanya.
(Ichsan Amin/ant)
(Kurniasih Miftakhul Jannah)