Ada dua komponen dalam terowongan ini, yakni terowongan air hujan dan terowongan mobil. Ini merupakan terowongan multiguna terpanjang di dunia. Pada 2011, terowongan SMART menerima UN Habitat Scroll of Honour Award atas inovasi dan manajemen unik dalam pengendalian banjir dan kemacetan lalu lintas.
Terowongan ini berawal di Kampung Berembang dekat Sungai Klang di Ampang dan berakhir di Taman Desa dekat Sungai Kerayong di Salak South. Proyek ini dipimpin oleh pemerintah Malaysia dan perusahaan patungan antara Gamuda Berhad dan Malaysian Mining Corporation Berhad (MMC).
Adapun Jepang membangun terowongan besar di utara Tokyo dengan ukuran sangat besar sehingga dapat menampung Patung Liberty di Amerika Serikat. Besarnya skala bangunan bawah tanah itu digunakan untuk melindungi Tokyo dari banjir. Sejumlah terowongan terhubung ke bagian pusat terowongan utama antibanjir yang selesai dibangun pada 2006.
Sistem itu dibangun dengan dana USD2 miliar dan menjadi contoh luar biasa bentuk pertahanan kota-kota global dalam menghadapi cuaca ekstrem akibat perubahan iklim. “Kami bersiap menghadapi banjir melebihi apa pun yang pernah kita lihat. Hingga sekarang, paling tidak, kami telah berhasil,” kata Kuniharu Abe, yang memimpin pengelolaan terowongan bawah tanah itu.
Selain Jepang, terowongan terpadu juga sudah dibangun di sejumlah negara lain di antaranya di Singapura, Hong Kong, dan Amerika Serikat. Sementara itu, pengamat perkotaan Universitas Trisakti Nirwono Joga menilai pembangunan integrated tunnel belum mendesak dilakukan di Jakarta.
Apalagi, Jakarta belum memiliki rencana induk ruang bawah tanah yang mencakup seluruh wilayah DKI Jakarta. Nirwono menjelaskan, penanganan banjir dan macet dua hal yang berbeda sehingga solusinya juga harus berbeda.
Banjir, kata dia, lebih pada salah kelola air hujan. Untuk kemacetan, lanjut Nirwono, solusinya tetap fokus pada pembangunan transportasi massal yang terpadu, serta didukung trotoar dan jalur sepeda yang aman dan nyaman.
(Bima Setiyadi/Syarifudin)
(Kurniasih Miftakhul Jannah)