INDRAMAYU - Perum Bulog tengah menyiapkan skema permodalan untuk memaksimalkan penggilingan padi petani. Sebagai hasilnya serapan Bulog terhadap gabah dan beras petani semakin baik.
Direktur Utama Perum Bulog Djarot Kusumayakti mengatakan, ada satu hal yang cukup penting yaitu teman-teman penggilingan ada keterbatasan permodalan. Maksudnya mereka terbatas pada kapasitas yang dimiliki, sehingga pada saat punya kapasitas 8 ton sehari, dia hanya ambil 8 ton atau 16 ton untuk kerja 2 hari.
"Nah saya ajak mereka kalau di lapangan itu ternyata ada 50 ton di daerah yang harganya jatuh, beli semua (oleh Bulog). Modelnya, pola kerja cerdas. Modal dari saya, nanti mereka bayar melalui beras yang digiling," tuturnya, di Indramayu, Jawa Barat, Selasa (27/2/2018).
Selama ini, para penggiling beras kecukupan modalnya hanya sesuai dengan kapasitas mesin. Oleh karena itu, hal ini yang perlu dimaksimalkan supaya kualitas beras terserap juga baik.
"Digiling kapan mungkin gak saat itu, bisa seminggu, sebulan kemudian. Nah pola ini yang membuat serapan lebih baik. Biasanya panen raya barang akan jatuh, jadi saya ingin semua energi yang ada dimanfaatkan," ujarnya.
Sebenarnya, Perum Bulog diwajibkan menyerap gabah dan beras petani sebagaimana dituangkan dalam Inpres Nomor 5. Serapan dilakukan hanya ketika ada kewajaran harga. Untuk lebih menggairahkan serapan petani, pemerintah menambahkan fleksibelitas 20% (HPP gabah ditambah 20%).
(Fakhri Rezy)