"Jadi dalam kembangkan EBT kita harus fleksibel dengan iklim. Mungkin ada keuntungan dari cuaca di Denmark, jadi kita dapat kapasitas energi angin yang besar. Tapi selain angin kencang, bisa juga turbin angin berhenti dan tidak ada powernya," tuturnya.
Baca Juga: Menteri Jonan Akan Resmikan 21 Pembangkit Listrik Energi Terbarukan di NTT
Menurutnya, peta angin bisa membantu Indonesia mengembangkan tahap selanjutnya yakni pembuatan data. Rekomendasi data diperlukan, untuk memproyeksikan teknologi apa yang cocok, berapa investasi dan sampai kapan masa operasinya. "Dengan rekomendasi data atau data yang di studi bersama (Denmark-Indonesia), ini bisa membuat kebijakan yang lebih konkret," tuturnya.
Sekadar informasi, sebelumnya Perdana Menteri Denmark Lars Lokke Rasmussen melakukan kunjungan ke Indonesia pada 27-29 November 2019. Saat kedatangannya dengan membawa delegasi, ada tiga kerjasama yang siap terjali antara Copenhagen dengan Jakarta, salah satunya konteks energi terbarukan.
(Martin Bagya Kertiyasa)