Kendati lebih rendah dibandingkan situasi pada saat periode taper tantrum di 2015 yang defisitnya lebih dari 4%, namun Sri Mulyani mengatakan Indonesia harus tetap waspada dan hati-hati, karena lingkungan yang dihadapi berbeda dengan 2015.
"2015 waktu itu quantitative easing masih terjadi dan kenaikan suku bunga masih belum dilakukan, baru diumumkan. Sekarang suku bunga sudah naik secara global dan quantitative easing sudah mulai dikurangi dan inilah yang menyebabkan tekanan menjadi lebih kuat terhadap berbagai mata uang di dunia," jelas dia.
(Dani Jumadil Akhir)