Banyak Bangun Proyek Besar, Negara Afrika 'Tersandera' Utang dari China?

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis
Senin 10 September 2018 07:42 WIB
Foto: AFP
Share :

Ggoobi juga mengatakan ada kekhawatiran yang lebih besar atas dampak lingkungan dari investasi China, "terutama mengingat buruk, korup, dan lemahnya institusi penegak aturan di Afrika".

Pada 2015, departemen China Africa Research Initiative di jurusan Kajian Internasional Universitas Johns Hopkins memperingatkan bahwa negara-negara Afrika mungkin tidak dapat membayar kembali pinjaman China "karena harga komoditas yang berfluktuasi dan penurunan kapasitas penyerapan".

"Saat ini kami mendapati pinjaman China bukan penyumbang utama bagi kesulitan utang di Afrika," papar mereka dalam sebuah makalah menjelang Forum Pertemuan Kerja sama China-Afrika ke-7 pekan ini di Beijing.

China memiliki bagian terbesar dari utang Afrika, tetapi negara-negara tersebut juga meminjam dari banyak sumber lainnya di dunia internasional sehingga China tidak sendirian disalahkan dalam hal utang piutang.

Ketika pertemuan terakhir dilaksanakan di Johannesburg, Cina menjanjikan uang sebesar USD35 miliar (atau Rp521 triliun) dalam bentuk pinjaman bantuan luar negeri bersifat konsesi di antara pinjaman lainnya ke Afrika.

Yang belum diperbaiki adalah yang disebut Standard Bank sebagai "defisit perdagangan signifikan dengan China" sejak 2014. Mereka mengatakan hanya lima negara Afrika yang memiliki surplus perdagangan dengan China.

Ggoobi ingin China membantu Afrika membangun kapasitas kelembagaan untuk menjadi tuan rumah investasi menggunakan jalur-jalur seperti zona ekonomi khusus dan kawasan industri demi menopang sektor manufaktur yang berfokus pada ekspor di benua itu.

Sejauh ini, Cina hanya memberi lip-service soal dukungan jangka panjang kepada negara-negara Afrika. Padahal, hal ini penting guna memutus ketergantungan mereka pada macan Asia tersebut.

Bulan lalu, Djibouti meluncurkan fase pertama zona perdagangan bebas buatan China yang dinilai sebagai yang terbesar di Afrika.

Namun, proyek ini dilihat hanya sebagai bagian dari skema Cina untuk menghidupkan kembali rute perdagangan di Belt and Road Initiative yang menargetkan 60 negara.

Orang-orang Uganda mungkin sekarang bisa menikmati sensasi meluncur di jalan tol sembari melintasi Jembatan Nambigirwa, tetapi ada ketakutan nyata bahwa mereka bisa tenggelam dalam utang China.

(Dani Jumadil Akhir)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya