Sebelumnya pada awal Oktober lalu nilai pasar perusahaan yang didirikan Steve Jobs itu mencapai rekor ter tinggi, yakni USD1.120 miliar (Rp16.240 triliun). Namun, pada 4 Januari nilai pasar Apple turun menjadi USD674,75 miliar. Revisi perkiraan laba Apple diakui oleh Chief Executive Apple Tim Cook sebagai akibat dari melambatnya penjualan iPhone di China yang perekonomiannya terdampak perang dagang dengan Amerika Serikat (AS).
Pernyataan Cook itu menyebabkan saham Apple jatuh hanya dalam hitungan jam. Para pemasok dilanda kecemasan karena menganggap produsen iPhone itu sedang dilanda masalah serius dipasar global. Pendapatan Apple juga jatuh pada kuartal keempat 2018.
Hal itu menunjukkan ekonomi China memberikan dampak yang sangat tajam dan besar terhadap perusahaan AS. Di sisi lain, peringkat Apple Inc sebagai perusahaan paling inovatif di dunia menurun drastis. Perusahaan raksasa teknologi raksasa itu jatuh 16 posisi dari posisi pertama tahun lalu ke posisi ke-17 tahun ini dalam daftar perusahaan paling inovatif di dunia versi majalah Fast Company .
“Apple tidak mampu menciptakan inovasi baru yang berdampak luas setahun terakhir. Di sisi lain, penjualan pe rangkat keras sedang melesu,” ujar redaktur senior Fast Com pany Amy Farley, dikutip cnbc.com. “Tapi, Apple unggul dalam pengembangan dan pembuatan prosesor,” tambahnya.
Menurut Farley, Apple berhasil menciptakan prosesor yang mampu beroperasi dalam aktivitas data yang sangat intensif seperti kecerdasan buatan (AI), augmented reality ( AR), dan fotografi tingkat tinggi. Inovasi tersebut menjadi salah satu aset Apple yang sangat berharga di pasar elektronik.
Pada tahun ini Apple tersingkir oleh perusahaan China, Meituan Dianping, yang menduduki posisi puncak untuk pertama kali di Fast Company. Meituan Dianping merupakan perusahaan pembuat aplikasi mobile untuk layanan pemesanan kamar hotel, tiket bioskop, hingga pengantaran makanan.
(Feby Novalius)