Serangkaian riset baterai untuk kendaraan listrik sejatinya sudah dilakukan di dalam negeri. Salah satunya oleh PT Pertamina (Persero) yang berkolaborasi dengan Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo. Kolaborasi keduanya menghasilkan lithium ion battery (LIB) untuk penggerak motor listrik yang hemat dan murah.
Meskipun hanya bisa digunakan untuk kendaraan roda dua, diharapkan pengembangan baterai tersebut bisa digunakan untuk mobil. ”Kami terus melakukan riset, termasuk dengan Pertamina,”ujar peneliti dari UNS, Muhammad Nizam .
Nizam, yang pernah menjadi Project Leader Tim Molinas (Mobil Listrik Nasional) UNS itu memaparkan, b aterai menjadi isu penting bagi pengembangan kendaraan listrik. Karena itu, teknologi pembuatan baterai menjadi strategis.
Dia memberikan contoh, satu unit battery pack yang tengah dikembangkan memiliki kapasitas 3 kwh untuk motor listrik dengan kekuatan 5 kw atau setara mesin motor dengan pembakaran internal berkapasitas 125-150 cc.
Namun, lanjut Nizam, tantangan yang dihadapi tak sekadar masalah baterai karena baterai sudah bisa diproduksi meski belum sampai pada kapasitas besar. Hal paling penting adalah infrastruktur charging station berdaya listrik besar.
Baca Juga: Penjualan Mobil Listrik Tembus Rekor, Saham Tesla Meroket hingga 7%
Sebab, dibutuhkan infrastruktur kelistrikan yang sesuai dengan kapasitas baterai mobil. ”Pekerjaan rumah kita tidak hanya baterai, tapi juga infrastruktur,” paparnya.
Dia mencontohkan, infrastruktur kelistrikan di rumah pemilik kendaraan, misalnya, minimal 3.500 va. Selain itu, perlu juga diperbanyak charging station di kawasan perkantoran, jalan tol, mal, dan tempattempat yang banyak dikunjungi.
”Jadi, pemilik mobil bisa membeli listrik (charging ) di lokasi tersebut. Apalagi jika di SPBU tersedia, tentu lebih memudahkan,” paparnya.
Terkait dengan jenis kendaraan yang cocok, bagi Nizam, hal itu tergantung pada selera masyarakat Indonesia. Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azam menilai, saat ini mobil yang diminati masyarakat adalah mobil bergenre MPV.
Namun, pihaknya masih melakukan studi mobil jenis apa yang cocok dengan selera masyarakat Indonesia. ”Kami sih siap saja memproduksi (mobil listrik). Tapi kan harus disesuaikan dengan keinginan masyarakat. Mereka maunya beli mobil yang seperti apa,” ujarnya.
(Anton C.)
(Rani Hardjanti)