Investor Dinilai Cemas Imbas Maraknya Hostile Takeover

, Jurnalis
Jum'at 26 Juli 2019 12:05 WIB
Share :

Head of Research Department of Koneksi Capital Alfred Nainggolan juga menilai, proses hostile takeover sudah pasti tidak bisa berjalan mulus dan memengaruhi roda usaha. Karena konflik ini akan berujung pada konflik kepemimpinan di perusahaan tersebut.

Dia mencontohkan kisruh di tubuh emiten Jababeka dengan adanya pergantian susunan direksi yang ”mengejutkan”, menandakan proses pergantian manajemen di luar kebiasaan.

”Kejadian seperti ini bisa dikatakan hostile takeover, terlebih dengan terdiversivikasinya pemegang saham KIJA memperbesar peluang terjadinya hal itu,” katanya.

Alfred memaparkan motif dari hostile takeover adalah memperebutkan penguasaan perusahaan (aset) yang sudah pasti aset itu punya nilai (prospek) menarik/strategis.

Di sisi lain, Ketua Masyarakat Investor Sekuritas Indonesia (MISSI) Sanusi mendesak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) maupun Bursa Efek Indonesia (BEI) sebaiknya mengatur lebih jauh bagaimana mekanisme pemegang saham publik bisa terlibat dalam susunan manajemen perseroan, apabila jumlah saham publik lebih besar dalam satu perusahaan terbuka.

”Asalkan yang dilibatkan murni pemegang saham publik yang berkumpul, bukan pemegang saham lainnya yang berniat mengambil alih suatu perusahaan,” katanya.

Dia menilai hal ini perlu dilakukan agar seluruh tindakan manajemen perseroan bisa berjalan baik sesuai dengan kepentingan seluruh pemegang saham.(Koran Sindo)

(Fakhri Rezy)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya