JAKARTA - PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) berencana untuk menerbitkan surat utang global alias global bond. Ketertarikan PGN untuk menerbitkan global bond lantaran melihat BUMN lainnya yang lebih dulu menerbitkan global bond seperti PT PLN (Persero) dan juga PT Pertamina (Persero).
Direktur Utama PGN Gigih Prakoso mengatakan, pendanaan ini nantinya akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan dana perusahaan setelah dana perusahaan digunakan untuk mengakuisisi Pertagas. Untuk mengakuisisi Pertagas diakui Gigih seluruhnya menggunakan uang perusahaan.
Baca Juga: PGN Teken MoU Jual Beli Gas dengan Talisman Sakakemang
Untuk mengakuisisi 51% saham Pertagas dari PT Pertamina (Persero) PGN menggelontorkan dana sekitar USD1,3 miliar. Akuisisi pertagas harus dilakukan mengingat hal tersebut meruapakan mandat saat dibentuknya holding BUMN migas.
"Untuk akuisisi Pertagas memang kita gunakan dana sendiri sampai USD1,3 miliar," ujarnya di Kementerian BUMN, Jakarta, Kamis (8/8/2019).
Sebenarnya lanjut Gigih, pihaknya sudah mendapatkan suntikan pinjaman dana dari Bank Mandiri sebesar USD350 juta. Namun menurutnya, pinjaman tersebut hanya bersifat jangka pendek.
Baca Juga: Penyaluran Gas Bumi PGN Melonjak 43% Sepanjang Januari-Mei 2019
Pasalnya, pinjaman yang bersifat jangka pendek itu untuk memenuhi kebutuhan belanja modal alias capital expenditure (capex) PGN yang mencapai sekitar USD500 juta. Oleh karenanya perlu ada tambahan USD150 jutaan untuk memenuhi kebutuhan belanja modal.
"Jadi kita gunakan ini (pinjaman Bank Mandiri) untuk bridging dulu untuk keperluan capex kita yang sampai USD500 jutaan. Namun realisasi semester I di bawah itu" katanya.