JAKARTA - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melakukan uji coba bus listrik pada hari ini. Bus yang sekilas mirip dengan Bus Rapid Transportation (BRT) yang beroperasi di Jabodetabek. Bus listrik ini merupakan seri MD12-E yang diproduksi PT Mobil Anak Bangsa (MAB).
Technical Director MAB Bambang Tri Soepandi mengatakan, bus listrik yang di ujicoba pada hari ini memiliki ketahanan yang sangat bagus. Bahkan, bus ini tidak akan mengalami konslet meskipun melaju dalam kondisi hujan dan ada genangan air.
Baca Juga: Menjajal Bus Listrik, Ngegas Mulus Tanpa Suara
Bus ini sudah melakukan uji coba daya tahan sebelum dibiarkan mengaspal di jalan raya. Uji coba dimaksud adalah dengan merendam baterai di dalam air dengan ke dalaman dua meter dan juga dibakar dengan api.
"Ini sudah kita lakukan uji coba baterinya direndam di dalam air dengan ke dalaman dua meter.Terus kita bakar juga tapi baterai nya tidak kenapa-napa," ujarnya di sela-sela uji coba di kawasan Menteng, Jakarta, Rabu (28/8/2019).
Baterai ini juga, lanjut Bambang, dirancang untuk jangka waktu 8 tahun lamanya. Setelah itu nantinya baterai akan diganti sesuai kelipatannya.
Ini tentunya lebih hemat dibandingkan bus yang menggunakan Bahan Bakar Minyak (BBM) karena harus secara rutin dilakukan servis dan ganti oli.
Baca Juga: Motor Listrik dan BBM, Lebih Irit yang Mana?
"Ini baterainya di rancang untuk 8 tahun. Tapi dibandingkan bus biasa kan harus ganti oli tiap bulannya kalau ini enggak," ucapnya.
Selain itu lanjut Bambang, bis ini juga bisa di charger di Stasiun Pengisian Listrik Umum (SPLU) yang ada di jalan. Adapun waktu pengisiannya biasanya hanya berlangsung tiga jam dan bisa digunakan seharian dengan rute Harmoni-Blok M.
Ke depannya, pengisian bahan bakar untuk mobil listrik ini juga nantinya bisa melalui powerbank yang biasannya tersedia di pinggiran jalan. Powerbank ini biasannya berupa mobil kontainer yang berisi listrik milik PLN.
"Kendaraan sepeda motor SPLU PLN itu menyediakan di tempat-tempat bisa didatengi mobil-mobil kecil untuk bus charging yang besar harus 100 kilowatt. Enggak perlu CnG, terminal stasiun CnG yang besar," jelasnya.
Menurut Bambang, hal tersebut sebenarnya merupakan hal biasa di negara-negara maju. Karena negara maju biasannya hampir seluruh mobil sudah berbasis listrik.
"Di luar negeri ada teknologi energi storage menjadi powerbank dibikin di kontainer, bisa menggunakan energi atorage, bisa dari PLN atau solar panel cycle bisa 15 tahun. Mobil perlu energi besar tenaganya cepet abis," jelasnya.
Sebagai informasi, Yang membuatnya lebih nyaman adalah suara mesin yang sama sekali tidak berbunyi. Bahkan ketika bis berangkat, tak ada getaran sedikit pun yang terasa oleh penumpang hanya ada bunyi suara AC saja yang terdengar.
Untuk spesifikasinya, bus dengan panjang 12 m meter ini dapat melaju hingga 70 km/jam. Totalnya sekali charge dengan maksimal daya 200 kwh, bus ini dapat berjalan sejauh 250 km.
(Feby Novalius)