BALI - Mungkin belum banyak yang tahu mengenai Jatiluwih. Sebuah desa dengan pemandangan sawah berundak yang hijau nan sejuk di Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali.
Ya, kali ini Okezone mendapat kesempatan bersama Kementerian Pertanian (Kementan) untuk menengok indahnya argo eco tourism tersebut. Sebuah area persawahan berundak yang dikelola mandiri oleh para petani lokal yang kini familiar dengan nama Jatiluwih Rice Terrace.
Baca juga: Si Beneng, Talas Jumbo Pandeglang Menembus Belanda
Salah seorang Ketua Kelompok Tani Jatiluwih, I Wayan Mustra menjelaskan, di sini ada banyak petani yang mengelola area persawahan berundak. Dia mengatakan, satu kelompok tani terdiri dari 10 hingga 20 orang petani.
"Di sini semua kepemilikan sawah pribadi semua. Pengairannya menggunakan Subak. Kami kelompok tani, mengelola pupuk sendiri dan tidak menggunakan pestisida, makannya udaranya segar," kata Wayan saat berbincang dengan Okezone, Selasa 15 Oktober 2019.
Baca juga: Menggebrak, Kacang Tanah Indonesia Tembus Pasar Dunia
Dia menceritakan, para petani di Jatiluwih biasa mengolah pupuk yang berasal dari kotoran sapi. Proses pengolahan kotoran sapi jadi pupuk, kata Wayan, idealnya memakan waktu 3 sampai 4 bulan.
"Di sini panen padi 2 kali setahun, yaitu Januari dan Agustus," tuturnya.
Baca juga: Ekspor Pertanian RI Meningkat, Ternyata China Masih Sering Impor
Dalam pengelolaan sawah berundak di Jatiluwih, Wayan dan para petani ingin tetap menjaga kelestarian alam. Baik dari sisi keasriannya maupun budayanya.
"Budaya di sini dalam artian Subak di Bali, yang kental dengan upacara adatnya. Perairan sawah di sini semua dari Subak. Walau kemarau, air tetap ada meski debitnya hanya sepertiga dari saat musim penghujan," ucap Wayan.