Garuda Bukukan Laba Bersih Rp1,7 Triliun di Kuartal III-2019, Ini Penyebabnya

Giri Hartomo, Jurnalis
Senin 04 November 2019 20:27 WIB
Pesawat Garuda Indonesia (Foto:Okezone)
Share :

JAKARTAPT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) mencatatkan laba bersih senilai USD122,42 juta atau sekitar Rp1,713 triliun (mengacu kurs Rp14.000 per USD) pada kuartal III-2019. Hal ini cukup menggembirakan jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu, Garuda mengalami rugi USD114,08 juta atau sekira Rp1,59 triliun.

Vice President Corporate Secretary Garuda Indonesia Ikhsan Rosan, mengatakan, kinerja moncer Garuda pada triwulan ketiga tidak terlepas dari penyesuaian bisnis yang dilakukan. Misalnya dengan menekan biaya operasional demi meningkatkan pendapatan.

Baca Juga: Pesawat 737 Max 8 Dikandangkan, Berapa Kerugian Garuda?

“Laba kok bisa bagus banget tuh? Nah itu dia. Kita sekarang ini poinnya adalah revenue meningkat. Sama itu, capacity adjustment kan jadi cost-nya menurun,” ujarnya saat ditemui di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Senin (4/11/2019).

Ikhsan menambahkan, maksud dari penyesuaian bisnis dengan menjalankan operasi bisnis yang efisien. Maksudnya perseroan menawarkan kursi kepada pelanggan sesuai dengan permintaan pasar dan musimnya.

Di sisi lain, perseroan juga memangkas biaya-biaya yang tak diperlukan. Artinya, perseroan tidak hanya mengejar target penumpang saja, tapi juga efisiensi biaya saat menghadapi low season.

Baca Juga: Tak Dioperasikan karena Retak, Menhub Minta Garuda-Sriwijaya Cek Seluruh Pesawat

"Dulu kan kita mengacu pada target penumpang sehingga utility pesawat kita drop. Nah sekarang enggak, memang kita paham pasar ya kalau memang low season kita harus menyesuaikan. Jadi lebih efektif, fuel kita juga lebih hemat, dan crew kita bisa efektif, pesawat bisa masuk maintenance," jelasnya.

Mengutip data laporan keuangan yang dipublikasikan Garuda Indonesia, hingga kuartal III-2019 perseoran mengantongi laba bersih senilai USD122,42 juta atau setara Rp 1,71 triliun. Laba perseroan ditopang oleh kenaikan total pendapatan usaha 9,9% menjadi USD3,54 miliar, naik dibandingkan periode yang sama tahun lalu USD3,21 miliar atau Rp 49,58 triliun.

Peningkatan pendapatan tersebut terutama ditopang pendapatan dari penerbangan berjadwal senilai USD2,79 miliar, tumbuh 8,8% secara yoy dari USD2,56 miliar. Sedangkan pendapatan tidak berjadwal turun dari USD254,75 juta menjadi USD249,92 juta.

Perseroan juga mencatatkan penurunan beban pokok penjualan dan pendapatan sebesar 2,36% dari USD2,95 miliar kuartal III-2019 tahun lalu menjadi USD3,28 miliar.

Sementara itu, Garuda tercatat mengalami kerugian dari selisih kurs sepanjang Januari-September 2019 sebesar USD13,91 juta. Kondisi ini berbalik dari Januari-September 2018 yang mencatat keuntungan selisih kurs senilai USD52,35 juta.

Meski begitu, Garuda mampu mengantongi pendapatan bersih dari usaha lain-lain senilai USD13,62 juta hingga kuartal III 2019 ini. Catatan tersebut mampu tumbuh hingga 42,6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu USD9,55 juta.

Dengan kenaikan pendapatan usaha dan turunnya beban usaha selama 9 bulan pertama tahun ini Garuda mampu mengantongi laba usaha senilai USD253,24 juta.

(Feby Novalius)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya