JAKARTA - Presiden Joko Widodo kembali meminta agar tidak ada lagi perusahaan sektor minyak dan gas (migas) yang melakukan impor. Apalagi saat ini pemerintah tengah melakukan upaya memperbaiki neraca perdagangan.
Salah satu caranya adalah percepatan penggunaan energi campuran minyak sawit dari mulai B20 hingga mencapai Biodiesel 100 (B100). Menurutnya, penerapan ini perlu usaha yang tidak mudah dan dukungan dari semua pihak.
Baca juga: Tekan Defisit, Presiden Jokowi Pangkas Impor Energi dan Bahan Baku
“Saya ingatkan bahwa untuk keberhasilan B30 maupun nantinya menuju ke B100, apakah kita mau keluar dari rezim impor atau tidak. Jangan-jangan masih ada di antara kita yang masih suka impor BBM. Karena itu permintaan terhadap B30 menuju ke B100 dalam negeri harus terus dikembangkan dan diperbesar. Saya rasa itu,” ujarnya saat ditemui di SPBU MT Haryono, Jakarta, Senin (23/12/2019).
Menurut Jokowi, saat ini ketergantungan Indonesia terhadap impor Bahan Bakar Minyak (BBM) cukup tinggi. Hal tersebut terlihat dari angka impor migas yang masih sangat tinggi.
Baca juga: Presiden Jokowi Minta Luhut Tekan Impor Baja hingga Petrokimia
Di sisi lain, Indonesia merupakan penghasil sawit terbesar di dunia. Jika melihat potensi sawit yang besar seharusnya Indonesia bis menciptakan bahan bakar nabati yang berkualitas sebagai pengganti bahan bakar solar.
“Potensi itu harus kita manfaatkan untuk mendukung ketahanan dan kemandirian energi nasional kita. Usaha-usaha untuk mengurangi impor harus terus dilakukan dengan serius,” jelasnya.
Baca juga: BPS: Impor Oktober 2019 Capai USD14,77 Miliar
Selain itu, dengan tingginya permintaan B30 yang barus aja diresmikan akan menciptakan permintaan domestik terhadap minyak kelapa sawit (Cruel Palm Oil/CPO) yang besar. Hal tersebut akan berimbas pada sektor pertanian khususnya petani sawit.