JAKARTA - Indonesia dan Australia melaksanakan aksi kemitraan strategis komprehensif untuk 2020-2024. Salah satunya, ratifikasi perjanjian Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) yang telah selesai dilaksanakan dan diharapkan dapat membangkitkan minat investasi daripada Australia.
”Jadi tentu nanti terkait dengan IA-CEPA ini kita ketahui bahwa selama ini investasi dari Australia ini jumlahnya tidak masuk dalam 5 besar. Jadi range-nya antara USD400-700,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, dikutip dari Setkab, Senin (10/2/2020).
Baca Juga: Sepakati IA-CEPA, Presiden Jokowi: Kerjasama RI-Australia Lebih Terarah
Menurut Airlangga, Indonesia dengan Australia diuntungkan dengan thread valasnya ke pihak Australia. ”Tentu diharapkan dengan adanya IA-CEPA ini walaupun bea masuknya akan diturunkan rata-rata dari 5% menjadi 0%. Itu yang akan bisa didorong adalah, satu, tekstil. Kedua, otomotif,” kata Airlangga.
Otomotif sebagaimana diketahui, lanjut Airlangga, Australia mempunyai demand sebesar USD1,1 juta dan produk-produk kendaraan komersial seperti truk ataupun SUV sangat diminati.
Baca Juga: Presiden Ingin Tingkatkan Investasi hingga Perdagangan RI-Australia
”Nah sekarang Indonesia ini sendiri mempunyai kapasitas, tinggal kita bicara dengan produsen-produsen yang di Indonesia sedang di dalam proses supaya bagaimana kita bisa mempercepat tidak hanya yang tercantum di dalam IA-CEPA kan lebih utamanya kepada hybrid dan electric vehicle,” sambung Airlangga.
Di Indonesia sendiri, lanjut Airlangga, hybrid dan electric vehicle baru akan mulai produksi kira-kira tahun 2021. Dia menambahkan bahwa sebelum itu pemerintah akan mendorong supaya yang combustion engine juga masuk karena itu juga masih diminati di Australia.