Menurutnya, tidak mudah memang memerangi virus Covid-19 yang masuk melalui jalur laut karena banyaknya kapal asing yang singgah di pelabuhan dan dalam hal ini kapal asing tersebut harus lego jangkar di wilayah karantina sebelum sandar di dermaga pelabuhan.
"Petugas medis adalah petugas pertama yang naik kapal asing untuk melakukan pemeriksaan kesehatan baru diikuti petugas Syahbandar untuk melakukan pengecekan dokumen kapal. Sebelumnya, tim menggunakan speed boat menuju wilayah karantina kapal asing tersebut dimana dokter dan petugas medis harus menerjang gelombang ombak dan angin yang tidak dikatakan bersahabat. Namun, dengan niat tulus dan tanpa pamrih demi misi kemanusiaan, mereka tanpa ragu naik tangga "monyet" - tangga kecil dari kayu dengan pegangan tali untuk ke atas kapal guna melakukan mekanisme pemeriksaan kesehatan ABK kapal demi memastikan kapal dinyatakan bebas Covid 19 dan bisa sandar di pelabuhan," ujar dr. Budiman.
Namun demikian, dokter dan petugas medis juga manusia biasa. Ada rasa takut dan khawatir karena sebagai garda depan negara paling berpotensi terpapar Covid-19.
“Hampir semua merasakan itu. Rasa takut, khawatir baik petugas laki-laki dan perempuan, itu ada. Itu sangat manusiawi. Tapi memang inilah resiko kami. Kita harus kuat, kita harus bisa sehat,” ujar Budiman.
Baik Budiman, dokter lain dan petugas medis di pelabuhan tetap berpegang teguh pada tugas dan fungsinya sebagai garda depan negara. Setiap hari, mereka memeriksa satu sampai lima kapal asing untuk mencegah penularan virus Covid 19. Bahkan terkadang, petugas harus bolak-balik naik kapal di area yang berbeda-beda di tengah cuaca Perairan Selat Sunda yang kerap tidak menentu. Terkadang cuaca bisa stabil namun juga tiba-tiba buruk diterjang hujan dan gelombang tinggi.
Ia mengaku, rasa khawatir di tengah menjalankan tugas memeriksa kapal asing selalu saja ada. Bahkan, ada kala rekannya sempat berucap sampai kapan perang melawan Covid-19 berakhir.
“Kita semua petugas merasakan. Tapi kita memeriksa dengan kewaspadaan penuh. Jangan sampai tertular dan menulari baik dari alat angkut, dari orang bahkan dari diri sendiri. Karena yang paling berisiko adalah kita. Dan paling pertama dan diujung tombak, adalah kita, hold quarantine,” tutur Budiman yang telah bekerja 23 tahun di KKP Banten.