Terdampak Covid-19, SKK Migas Akui Susah Kejar Target Lifting Migas Tahun Ini

Giri Hartomo, Jurnalis
Kamis 16 April 2020 20:42 WIB
Harga Minyak (Foto: Ilustrasi Reuters)
Share :

JAKARTA - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengaku kesulitan untuk mengejar target lifting migas pada tahun ini. Mengingat, pemerintah dihadapkan berbagai macam permasalahan global dari mulai virus corona hingga turunnya harga minyak dunia.

Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto mengatakan, produksi minyak pada akhir tahun diperkirakan hanya 725 ribu barel per hari (bph), turun dari target dalam program Filling The Gap (FTG) 735 ribu bph. Sedangkan untuk produksi gas bumi diperkirakan turun dari 5.959 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) ke 5.727 MMSCFD.

Baca Juga: Kesepakatan OPEC Pangkas Produksi Tak Buat Harga Minyak Naik

“Ke depan, lifting migas akan semakin tertekan diakibatkan covid-19 dan rendahnya harga minyak. Sangat berat mencapai lifting migas sesuai target APBN 2020," ujarnya dalam telekonferensi, Kamis (16/4/2020).

Apalagi lanjut Dwi, target yang diberikan dalam APBN juga dinilai terlalu tinggi. Padahal kemampuan teknis di lapangan yang disepakati antara kontraktor dengan SKK Migas di bawah dari angka tersebut.

Baca Juga: Harga Minyak Anjlok Lagi, WTI Dibanderol USD20,1/Barel

"Target lifting yang diberikan, lebih tinggi dari kemampuan teknis lapangan-lapangan migas yang disepakati antara SKK Migas dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (Kontraktor KKS) saat pembahasan WP&B (rencana kerja) 2020," kata Dwi

Apalagi lanjut Dwi, penyebaran virus corona yang makin meluas membuat bakal semakin mempersulit. Apalagi harga minyak dunia, nilai tukar rupiah, dan konsumsi minyak mentah juga anjlok.

Rendahnya harga minyak sejak Februari 2020 yang kemudian dibarengi oleh penyebaran virus Covid-19 mulai mempengaruhi kegiatan hulu migas, baik di operasional, pelaksanaan proyek maupun penyerapan gas.

Pada kegiatan operasional hulu migas, pencegahan penyebaran COVID-19 membuat transportasi material dan inspeksi kinerja peralatan atau fasilitas lebih lama, produktivitas engineering dan konstruksi menjadi lebih rendah karena pergerakan tenaga kerja yang terbatas.

Selain itu, persetujuan pengurusan perijinan juga memakan waktu yang lebih lama. Akibatnya, semua kegiatan harus menyesuaikan kondisi yang dihadapi.

Sebagian aktivitas operasional seperti planned shutdown, pengeboran, kerja ulang dan perawatan sumur mengalami penundaan. Proyek-proyek mengalami pelambatan dibanding sebelumnya. Sebagai salah satu contohnya adalah pada Proyek Marakes yang mundur dari September 2020 ke tahun 2021 karena pengadaan barang dan tenaga penunjang dari Italy oleh Eni terhambat.

“Penyerapan gas oleh para pembeli juga berkurang akibat menurunnya permintaan,” kata Dwi.

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya