5 Fakta Inflasi Rendah, Permintaan Lesu Imbas Covid-19

Giri Hartomo, Jurnalis
Sabtu 09 Mei 2020 08:12 WIB
Covid-19 (Foto: Ilustrasi Okezone)
Share :

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data Indeks Harga Konsumen (IHK) atau inflasi pada April 2020. Adapun angka inflasi pada April 2020 tercatat sebesar 0,08%

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, angka inflasi ini lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 0,10%. Sementara jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu juga lebih rendah karena pada April 2019, tercatat sebesar 2,67%.

Rendahnya inflasi dipicu dua hal. Pertama adalah inflasi rendah ini membuktikan adanya penurunan pada daya beli masyarakat.

Baca Juga: Inflasi April 0,08%, BPS: Lebih Rendah Dibandingkan Tahun Lalu

Kedua. Rendahnya angka inflasi ini juga membuktikan jika harga bahan pokok di bulan puasa dan di tengah pandemi corona ini masih terjaga

Berikut fakta menarik soal rendahnya inflasi di tengah pandemi virus corona, Jakarta, Sabtu (9/5/2020).

1. Inflasi April 0,08%

 

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, angka inflasi April 2020 tercatat sebesar 0,08%. Inflas ini lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 0,10%. Sementara jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu juga lebih rendah karena pada April 2019, tercatat sebesar 2,67%.

"Hasil pemantauan BPS di 90 kota inflasi pada Bulan April 2020 terjadi inflasi 0,08%," ujarnya.

2. Inflasi Rendah saat Ramadhan, Harga Terkendali tapi Daya Beli Turun

 

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengatakan, rendahnya inflasi April membuktikan dua hal. Pertama adalah, inflasi rendah ini membuktikan adanya penurunan pada daya beli masyarakat.

Baca Juga: Sri Mulyani: Meski Inflasi Rendah tapi 2 Juta Lebih Pekerja Di-PHK

Menurut pria yang kerap disapa Kecuk, penurunan ini terjadi setelah adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang dilakukan di beberapa daerah. Hal tersebut membuat daya beli masyarakat semakin menurun karena aktivitas dibatasi.

"Kemungkinan besar karena adanya penurunan permintaan barang dan jasa dari masyarakat karena penurunan aktivitas sosial akibat implementasi PSBB di berbagai wilayah," jelasnya.

Sementara itu di sisi lain, rendahnya angka inflasi ini juga membuktikan jika harga bahan pokok di bulan puasa dan di tengah pandemi corona ini masih terjaga. Ini juga membuktikan jika pasokan pangan lancar meskipun ada aturan PSBB.

3. Inflasi Lebaran Diprediksi Rendah

Bank Indonesia (BI) memprediksi inflasi Ramadan pada tahun ini juga akan lebih rendah dibandingkan inflasi Ramadan tahun sebelumnya.

"Historisnya bisa 0,6%-0,9%. Ini akan jauh lebih rendah karena faktor PSBB, pembatasan mobil, manusia, pengaruh permintaan barang jasa. Itu mendasari kenapa inflasi tahun ini lebih rendah dan sesuai sasaran yaitu 3% plus minus 1%," kata Gubernur BI Perry Warjiyo.

4. Inflasi Rendah di Luar Perkiraan BI

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan, inflasi April 0,08% di luar perkiraan BI. Rendahya inflasi menunjukkan bahwa faktor permintaan yang rendah juga.

"Kalau permintaan rendah, permintaan rendah barang dan jasa maka tekanan inflasinya rendah," kata Perry.

Menurut Perry, rendahnya inflasi disebabkan penanganan Covid-19 seperti melakukan social distancing, phsyical distancing, Work Form Home (WFH) serta Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

"Itu memengaruhi kegiatan aktivitas manusia dan memengaruhi juga permintaan barang dan jasa karenanya inflasi lebih rendah dari yang kita diperkirakan," ujarnya.

5. Pemicu Inflasi April

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka inflasi pada April 2020 sebesar 0,08%. Salah satu yang mendongkrak inflasi pada tahun ini adalah dari kelompok makanan, minuman dan tembakau dengan inflasi sebesar 0,09% dengan andilnya sebesar 0,02%.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, salah satu yang menyebabkan inflasi adalah kenaikan pada harga bawang merah yang mengalami kenaikan sebesar 0,08%. Kemudian ada juga harga gula pasir yang mengalami kenaikan harga sehingga menyumbang inflasi sebesar 0,02%.

"Kelompok pengeluaran yang sumbang andil inflasi, kelompok makanan minuman dan tembakau inflasi 0,09% dan andilnya kepada inflasi 0,02%. Beberapa komoditas yang berikan andil ke inflasi karena kenaikan harga adalah bawang merah 0,08%, gula pasir andil 0,02%," ujarnya.

Selain itu, ada juga kenaikan pada harga minyak goreng sebesar 0,01%. Selain itu, harga beras hingga Rokok baik filter maupun rokok putih juga mengalami kenaikan hingga 0,01%.

"Beberapa barang seperti minyak goreng, rokok filter, rokok putih, beras. Masing-masing 0,01%," ucapnya.

(Dani Jumadil Akhir)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya