Di Addis Ababa, para teknisi Ethiopian Airlines belakangan ini sibuk mengubah sebagian pesawat mereka, dari pesawat penumpang menjadi pesawat kargo. Ethiopian Airlines mencatat kerugian 550 juta dolar antara Januari dan April, tetapi CEO perusahaan itu, Tewolde GebreMariam, menyatakan ia optimistis.
Maskapai penerbangan Afrika lainnya mungkin sulit untuk bertahan. Sebagian telah menumpuk utang jauh sebelum pandemi, tetapi paket dana talangan pemerintah membuat mereka beroperasi meski dengan susah payah selama bertahun-tahun.
EasyJet, perusahaan penerbangan murah yang berbasis di London juga melakukan pemangkasan, sekitar sepertiga dari 15 ribu karyawannya.
Beberapa maskapai penerbangan besar telah mengajukan perlindungan dari kebangkrutan, di antaranya South African Airways, Virgin Australia serta dua maskapai terbesar di Amerika Latin, Latam dan Avianca. Ini menegaskan beratnya tantangan finansial yang dihadapi industri perjalanan akibat lockdown, karantina dan berbagai langkah lain yang diterapkan pemerintah.
(Fakhri Rezy)