5 Dampak Resesi Singapura, Warning Bagi Indonesia

Natasha Oktalia, Jurnalis
Minggu 19 Juli 2020 10:26 WIB
Singapura Alami Resesi Ekonomi. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)
Share :

JAKARTA - Singapura mengalami pertumbuhan ekonomi hingga minus 41% pada kuartal II-2020. Bahkan perekonomian negara tersebut menjadi resesi karena sudah dua kuartal mengalami pertumbuhan negatif.

Menteri Keuangan Sri Mulyani pun mulai menyiapkan cara supaya Indonesia tidak terdampak resesi Singapura. Misalnya menjaga daya beli masyarakat, ekspor hingga investasi.

Okezone pun merangkum fakta-fakta menarik seberapa besar dampak resesi Singapura terhadap Indonesia, Minggu (19/7/2020):

1. Singapura Alami Resesi

Ekonomi Singapura masuk resesi, setelah pertumbuhan ekonomi negara tersebut minus 41,2% pada kuartal II-2020 dampak pandemi virus corona. Departemen Perdagangan dan Industri menyatakan, produk domestik bruto Singapura sebagian besar dihitung dari data bulan April dan Mei. Akibatnya, ekonom memprediksi ekonomi negara di Asia Tenggara akan minus 37,4%.

Resesi didefinisikan jika pertumbuhan dua kuartal berturut-turut mengalami minus. Tercatat, pada kuartal I-2020, ekonomi Singapura minus 3,3%.

2. Bagaimana Dampak pada Indonesia?

Ekonom Indef Bhima Yudistira menilai Singapura yang telah mengalami resesi menjadi peringatan bagi Indonesia yang bakal menekan sektor perdagangan dalam negeri.

"Singapura menjadi hubungan perdagangan dan investasi yang cukup penting bagi Indonesia. Indikasi resesi Singapura menjadi warning bagi Indonesia bahwa kinerja perdagangan akan terkontraksi cukup dalam," ujar Bhima.

Kata dia, arus barang yang keluar dan masuk dari Indonesia sebagian lewat hub Singapura. Kalau volume ekspor impor disana turun tajam harus bersiap kinerja perdagangan akan turun sepanjang tahun.

3. Antisipasi Sri Mulyani

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mewaspadai dampak Singapura yang mengalami resesi. Singapura mengumumkan pertumbuhan ekonominya di kuartal II-2020. Kementerian Perdagangan Singapura mengumumkan, ekonomi di kuartal II-2020 minus 41,2% dibandingkan kuartal I-2020.

"Kita tentu waspadai, karena bagaimanapun juga Indonesia engine of growth kita konsumsi, investasi, dan ekspor. Hari ini pemerintah menggunakan seluruh mekanisme anggarannya untuk mensubstitusi pelemahan di sisi konsumsi dan di sisi investasi maupun ekspor," ujar Sri Mulyani.

Sri Mulyani akan melakukan berbagai cara untuk menjaga tingkat konsumsi rumah tangga, ekspor, dan investasi. Salah satu upaya melalui program pemulihan ekonomi nasional (PEN) yang menyasar enam klaster sekaligus. Hal ini dilakukan agar resesi ekonomi tidak menular.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya